10 Adab Membaca Al-Qur’an

10 Adab Membaca Al-Qur'an

10 Adab Membaca Al-Qur’an

10 Adab Membaca Al-Qur'an
10 Adab Membaca Al-Qur’an

Al-Qur’an sebagai kitab suci, wahyu Ilahi, memiliki budpekerti tersendiri bagi orang-orang yang membacanya, budpekerti itu sudah diatur dengan sangat baik, untuk penghormatan dan keagungan Al-Qur’an, tiap-tiap orang harus berpedoman kepadanya dalam mengerjakannya. Imam Al-Gazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menguraikan dengan sejelas-jelasnya bagaimana tata cara membaca Al-Qur’an. Imam Al-Gazali sudah membagi dua budpekerti membaca Al-Qur’an dengan dua budpekerti yaitu budpekerti batin dan budpekerti lahiriyah.

Adab membaca Al-Qur’an dengan bathin diperinci lagi menjadi arti memahami asal kalimat, cara hati membesarkan kalimat Allah, menghadirkan hati dikala membaca hingga ketingkat memperluas, memperhalus perasaan dan memmembersihkankan jiwa. Sebagai pola Imam Al-Gazali mengambarkan bagaimana hati membesarkan kalimat Allah, yaitu bagi pembaca Al-Qur’an dikala dia memulainya, maka terlebih lampau ia harus menghadirkan dalam hatinya, betapa kebemasukan Allah yang memiliki kalimat-kalimat itu. Dia harus yakin dalam hatinya bahwa yang dibacanya itu bukanlah kalam manusia, tetapi yakni qalam Allah Azza Wajalla. Membesarkan Qalam Allah itu bukan saja dalam membacanya, tetapi juga dalam menjaga tulisan-tulisan Al-Qur’an itu sendiri.

Adapun terkena adabAl-Qur’an. Selain di dapati dalam kitab Ihya Ulumuddin, juga terdapat dalam kitab-kitab lain, contohnya dalam kitab Al-Itqan oleh Al-Imam Jalaluddin As-Suyuthi, tentang budpekerti membaca Al-Qur’an secara terperinci
Diantara adab-adab membaca Al-Qur’an yang terpenting yakni sebagai diberikut:

1. Disunatkan membaca Al-Qur’an setelah berwudhu

dalam keadaan membersihkan, alasannya yang dibaca yakni wahyu Allah, kemudian mengambil Al-Qur’an dengan tangan kanan, dan sebaiknya memegang dengan kedua belah tangan

2. Disunatkan membaca Al-Qur’an ditempat yang membersihkan

mirip di rumah, disurau, di mushalla, dan ditempat lain yang dianggap membersihkan, tapi yang paling utama ialah di masjid..

3. Disunatkan membaca Al-Qur’an menghadap ke kiblat

membaca dengan khusyu dan hening sebaiknya dengan berpakaian yang membersihkan.

Baca Juga: Ayat Kursi

4. Ketika membaca Al-Qur’an Membersihkan Lisan

lisan hendaknya membersihkan, tidak meliputi makanan, sebaiknya sebelum membaca Al-Qur’an lisan dan gigi dimembersihkankan terlebih lampau

5. Sebelum membaca Al-Qur’an, disunatkan membaca ta’awudz

yang berbunyi ‘audzubillahi minasysyaithonirrajin setelah itu barulah dibaca basmalah, maksudnya diminta derma lebih lampau pada Allah supaya terjauh dari efek tipu muslihat syaitan, sehinggga hati dan fikiran tetap hening diwaktu membaca Al-Qur’an, terjauh dari gangguan atau godaan. Bisa juga sebelum atau setelah membaca ta’awwudz berdoa dengan maksud bermohon kepada Allah supaya hatinya menjadi tenang.

6. Disunatkan membaca Al-Qur’an dengan tartil

yaitu dengan bacaan yang pelan-pelan dan hening sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-muzammil ayat 4 :
Artinya : “…dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil”.
Membaca Al-Qur’an dengan tartil lebih banyak mempersembahkan bekas dan menghipnotis jiwa, serta lebih menhadirkan ketenangan batin dan rasa hormat kepada Al-Qur’an.
Ibnu Abbas berkata : “Aku lebih suka membaca surah Al-baqarah dan Al-imran dengan tartil, dari pada kubaca seluruh Al-Qur’an dengan cara terburu-buru dan cepat.

7. Bagi orang yang sudah mengerti arti dan maksud ayat-ayat Al-Qur’an

disunatkan membacanya dengan penuh perhatian dan pemikiran tentang ayat-ayat yang dibacanya itu dan maksudnya. Teknik membaca mirip inilah yang dikehendaki, yaitu lidahnya bergerak membacanya, hatinya turut memperhatikan, dan memikirkan arti dan makna yang terkandung dalam ayat-ayat yang dibacanya. Yaitu membaca Al-Qur’an serta memahami isi kandungan di dalamnya, hal ini yang sanggup mengantarkan dan mendorong untuk mengamalkan isi Al-Qur’an itu. Hal ini dijelaskan dalam surah An-nisa ayat 82 :
Artinya : “Apakah mereka tidak memperhatikan isi Al-Qur’an….”.

8. Dalam membaca Al-Qur’an itu, hendaklah benar-benar diresapkan arti dan maksudnya

Lebih-lebih apabila hingga pada ayat-ayat yang menggambarkan nasib orang-orang yang berdosa, dan bagaimana hebatnya siksaan yang disediakan bagi mereka. Sehubungan dengan itu, berdasarkan riwayat para teman erat banyak yang menyucurkan air matanya dikala membaca dan mendengar ayat-ayat Al-Qur’an yang menggambarkan betapa nasib yang diderita bagi orang-orang yang berdosa.

9. Disunatkan membacaAl-Qur’an dengan bunyi yang elok dan merdu

alasannya bunyi yang elok dan merdu itu menambah keindahan uslubnya Al-Qur’an. Oleh alasannya itu melagukan Al-Qur’an dengan bunyi yang elok yakni disunatkan asalkan tidak melanggar ketentuan-ketentuan dan tata cara membaca, sebagaimana yang sudah ditentukan dalam ilmu qiraat dan tajwid, mirip menjaga madnya, harkatnya, barisnya dan aturan ilmu tajwid lainnya.

10. Ketika membaca Al-Qur’an, tidak bolehlah diputuskan spesial untuk lantaran hendak berbicara dengan orang lain.

Hendaknya bacaan diteruskan hingga kebatas yang sudah ditentukan, barulah disudahi. Juga dihentikan tertawa-tawa, bermain-main dan lain-lain yang semacam itu dikala sedang membaca Al-Qur’an.