Anak Hasil mut’ah

Adalah menikah dengan batasan waktu tertentu.

Anak mut’ah adalah anak sah menurut syara’. Dia memiliki semua hak yang dilmiliki oleh ana sah lainnya. Tanpa ada pengecualian baik hak-hak syar’I maupun moral. Dalam nikah mut’ah waktu yang ditenytukan itu harus disebutkan secara jelas dalam akad, istri tidak berhak atas harta peninggalan suami mut’ahnya, dan si suami tidak wajib memberi nafkah kepadnya, sedangkan dalm pernikahan biasa istri berhak atas waris dan nafkah. Akan tetapi, wanita yang dinikahi secara mut’ah apat memberikan syarat yang dicantumkan dalam akad agar ia mendapat waris dan nafkah dari suaminya. Kalau semua syarat diatas telah dipenuhi maka kedudukan istri mut’ah sama denganistridalam pernikahan biasa.

  1. Anak hasil zina

seorang anak hasil zina adlah juga manusia, tetapi si anak hanya memiliki hubungan nasab kepada ibunya, sednagkan kepada bapaknya sangat tergantung kepada bapaknya sendiri. Jika bapaknyamengakui anaknya, terjalinlah nasab dengan bapaknya. Ank hasil zina bukan hanyaterputus tali nasab kepada kepada ayahnya, ia pun tidak berhak atas harta waris yang ditngglkan oleh ayahnya.[14]

Para ulama sepakat bahwa anaka zina tidak ada hak waris mewaris antara anaka yang dilahirkan melalui perzinaan dengan orang tuanya, sebab anak tersebut secara syariat tidak memilki kaitan nasab yang sah dengannya. Akan tetapi para ulama mazhab mengahadapi kesulitan besar sebagai konsekuensi dari fatwa mereka bahwa anak zina tidak berhak menerima waris. Manakala anak zian tersebut tidak memilki nasab  secara syar’I dengan orang tuanya, lelaki yang berzina tersebut tidak haram menikahi anak perempuan hasil  zinanya, anak laki-laki zina tidak haram mengawini saudara perempuannya dan bibinya, sepanjangmereka tidak dianggap mahrom. Anak zina itu dianggap sebagai anak yang sah, sehinnga diberikan seluruh haknya sebagaimana yang diberikan kepada anak sah lainnya, termasuk hak waris dan nafkah. Atau dipandang anak tidaksah sehingga diberi pula hak-haknya sebagaimana ornag-orang yang tiak mempunyai hubungan nasab, termasuk boleh menikah antara bapak dan anak perempuannya atau dia dan saudara perempuannya sendiri. Pemisah anatara sesuatau yang tidak dapat sipisahkan adalah mengada-ngada. Oleh karena itu, kita lihat para ulama mazhab sesudah sepakat bahwa si anak tidak mendapat waris, mereka berbeda pendapat dalam hal yang lain.

Sumber :

https://obatpenyakitherpes.id/teka-teki-di-android-terbaru/