Belajar Kontiguitas

Belajar Kontiguitas

Belajar Kontiguitas

Sudah kita lihat bahwa pemasangan stimulus tak terkondisi dan stimulus terkondisi merupakan suatu syarat untuk belajar responden. Beberapa teoretikus belajar mengemukakan bahwa pemasangan kejadian sederhana itu (kejadian apa pun) dapat menghasilkan belajar. Tidak diperlukan hubungan stimulus tak terkondisi—respons. Asosiasi dekat (contiguous) sederhana antara suatu stimulus dan suatu respons dapat menghasilkan suatu perubahan dalam perilaku.

Kekuatan belajar kontiguitas sederhana dapat dilihat bila seseorang memberikan respons terhadap pertanyaan-pertanyaan yang belum lengkap seperti berikut:

Sembilan kali lima sama dengan …
Gunung Semeru ialah gunung tertinggi di …
Anak itu sepandai …
Cita-citanya setinggi …

Dengan mengisikan kata-kata empat puluh lima, jawa Timur, ayahnya, langit, menunjukkan bahwa kita dapat belajar sesuatu karena peristiwa atau stimulus terjadi berdekatan pada waktu yang sama. Kadang-kadang diperlukan pengulangan peristiwa-peristiwa itu, tetapi ada kalanya belajar terjadi tanpa diulang. Jadi tidak perlu kita menganggap hubungan stimulus tak terkondisi­respons. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa manusia dapat berubah sebagai hasil pengalaman peristiwa-peristiwa yang berpasangan.

Dalam sekolah kita melihat bentuk belajar semacam ini waktu guru “mendril” siswa. Misalnya dalam menghafalkan pertambahan “2 + 2, 3 + 3, 4 + 4″ dan seterusnya atau perkatian 2 x 2, 3 x 3, 4 x 4” dan seterusnya. Mengajar dengan menggunakan metode “dril” ini, walaupun kerap kali membosankan, dapat menjadi efisien karena peristiwa yang terjadi secara bersamaan dapat menghasilkan belajar. Mengatakan “empat” terhadap stimulus “2 + 2” mengakibatkan pemasangan stimulus dan respons yang asosiasinya akan dipelajari.

sumber :

Middle-earth: Shadow of War 1.8.3.53965 Full Apk