Eric Hobsbawn


Berbeda  dengan  Gellner  yang  memahami  na-sionalisme  sebagai proses  pembentukan  high  cultu-re sebuah  bangsa, nasionalisme menurut Eric  Hobsbawn  dipahami  sebagai  pembentukan  iden-titas  kebangsaan. Pertanyaannya,  siapa  yang  mem-bentuk  identitas  kebangsaan  itu? Apakah  identitas  kebangsaan  dibentuk  oleh  seluruh  warga  masyarakat atau  hanya  kelompok  elit  saja?  Hobsbawn  berpendapat  bahwa  yang membentuk identias  kebang-saan adalah elit. Masyarakat pada  umumnya tidak  ikut  serta  dan  tidak  diikutsertakan  dalam  proses  pembentukan identitas kebangsaan.
Dalam  proses  pembentukan  identitas  kebangsaan  ini  elit  umumnya menciptakan  simbol-simbol yang dapat mendukung tercapainya  identitas ke-bangsaan.  Misalnya,  untuk  menunjukkan  bahwa  identitas  bangsa sebagai  bangsa  bahari,  para  elit  menciptakan  simbol-simbol  yang berhubungan  dengan dunia  bahari. Misalnya, kapal laut,  perahu  nelayan, patung  nelayan,  dan  sebagainya.  Setelah  diciptakan,  simbol-simbol  ini kemudian  ditafsirkan  oleh  para  elit.  Tafsiran  tersebut  umumnya  meng- gambarkan identitas ideal suatu bangsa. Simbol-simbol  dalam  bentuk  monumen-monumen  menjadi  contoh yang  sangat  jelas  bagaimana  identitas  kebangsaan  hendak  dibangun.  Di Indonesia  kita  memiliki  banyak  sekali  monumen  yang  maknanya  penuh dengan nilai-nilai kebangsaan. Kalian bisa mendalami apa makna di balik simbol  Monumen  Nasional  (Monas),  monumen  Pancasila  sakti,  dan monumen proklamator di Jakarta.
Menurut Hobsbawn, dalam membentuk identitas kebangsaan, para elit juga berusaha menafsirkan tradisi-tradisi sebegitu rupa, dengan dukungan ideologi  tertentu,  dengan  maksud  untuk  menghubungkan  identitas kebangsaan  sampai  ke  masa  yang  sangat  lampau.  Penciptaan  identitas kebangsaan  semacam  ini  biasanya  juga  mengedepankan nilai-nilai  luhur nenek  moyang  suatu  bangsa  yang  dapat  dijadikan  anutan  masyarakat dewasa ini.
Misalnya, Indonesia ingin menanamkan nilai-nilai kebangsaan dengan belajar  dari  nilai-nilai  kebangsaan  yang  ada  pada  Kerajaan  Sriwijaya. Menurut  Dr.  P.J.  Suwarno  (Pancasila  Budaya  Bangsa  Indonesia, Kanisius,  Yogyakarta:  1993,  hlm.  20-21),  Sriwijaya  yang  berpusat  di Sumatra,  telah  mempraktikkan  nilai-nilai  persatuan,  ketuhanan, kemasyarakatan, ekonomi, dan hubungan internasional. Di mata para elit, nilai-nilai  hidup  yang  ada  dalam  masyarakat  Kerajaan  Sriwijaya  ini menjadi  bukti  bahwa  sudah  sejak  lama  bangsa  Indonesia  memiliki kepribadian atau identitas bangsa yang agung dan luhur.

baca juga :