Faktor-Faktor Penyebab Kemunduran Hukum Islam          

Perkembangan pemikiran seseorang selalu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Perkembangan pemikiran hukum Islam ini pun dipengaruhi oleh berbagai keadaan atau faktor pula. Di antara faktor-faktor atau keadaan yang menyebabkan “kemunduran” atau kelesuan pemikiran hukum Islam di masa itu adalah hal-hal berikut:

  1. Kesatuan wilayah Islam yang luas, telah retak dengan munculnya beberapa negara baru, baik di Eropa (Spanyol), Afrika Utara, di kawasan Timur Tengah, dan Asia. Munculnya negara-negara baru itu membawa ketidakstabilan politik. Hal ini mempengaruhi pula kegiatan pemikiran dan pemantapan hukum.
  2. Ketidakstabilan politik menyebabkan pula ketidakstabilan kebebasan berpikir. Artinya orang tidak bebas mengutarakan pendapatnya. Dan karena pada zaman sebelumnya telah terbentuk aliran-aliran pemikiran hukum yang disebut dengan mazhab-mazhab (yang empat) itu, para ahli hukum dalam periode ini tinggal memilih  (ittiba’i) atau mengikuti (taqlid) saja pada salah satu di antaranya, memperkuat, memperjelas hal-hal yang terdapat dalam mazhabnya itu dengan berbagai penafsiran dan cara. Sikap yang seperti nini menyebabkan “jiwa atau ruh ijtihad” yang menyala-nyala di zaman-zaman sebelumnya menjadi padam dan para ahli mengikuti saja paham yang telah ada dalam mazhabnya.
  3. Pecahnya kesatuan kenegaraan/pemerintahan itu menyebabkan merosotnya pula kewibaan pengendalian perkembangan hukum. Dan bersamaan dengan itu muncul pula orang-orang yang sebenarnya tidak mempunya kelayakan untuk berijtihad, namun mengeluarkan berbagai garis hukum dalam bentuk ‘fatwa’ yang membingungkan masyarakat. Kesimpangsiuran pendapat yang seringkali bertentangan, menyebabkan pihak yang berkuasa memerintahkan para mufti serta kadi-kadi (para hakim) untuk mengikuti saja pemikiran-pemikiran yang telah ada sebelumnya. Dengan langkah ini dimaksudkan “kesimpangsiuran” pemikiran hukum akan dihentikan, tetapi justru dengan itu “kebekuan” pemikiran hukum terjadi. Bersamaan dengan itu pula dikumandangkan pendapat bahwa “pintu ijtihad atau bab al-ijtihad (baca: babul ijtihad) telah tertutup.”