Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekstraksi

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekstraksi

Minyak atsiri merupakan minyak aromatik khas tanaman penghasilnya yang diperoleh melalui beberapa teknik, salah satunya ekstraksi. Ekstraksi ini merupakan suatu teknik yang bertujuan untuk memisahkan zat berkhasiat yang terkandung dalam jaringan tumbuhan dari komponen inaktif atau inert menggunakan seletif. Sedangkan ekstrak merupakan suatu sediaan pekat yang diperoleh dengan mengektraksi zat aktif dari simplisa menggunakan pelarut yang sesuai.
Dalam menentukan kualitas minyak atsiri dipengaruhi oleh teknik ekstraksi yang dilakukan. Sehingga ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas minyak atsiri berdasarkan teknik ekstraksi, yaitu : Perlakuan pendahuluan, temperatur, pengadukan, dan pemilihan pelarut (Chandra, 2015).

1. Perlakuan Pendahuluan

Perlakuan penahuluan merupakan faktor yang berpengaruhi rendemen dan mutu ekstrak yang dihasilkan. Faktor ini meliputi pengecilan ukuran dan pengeringan bahan. Semakin kecil ukuran partikel bahan, maka semakin besar luas kontak antara padatan dengan pelarut, tahanan menjadi semakin berkurang dan lintasan kapiler dalam padatan menjadi semakin pendek (laju difusi berbanding lurus dengan luas permukaan padatan dan berbanding terbalik dengan keteabalan padatan). Berdasarkan hal tersebut maka proses ekstraksi menjadi lebih cepat dan optimal.
Untuk mengecil ukuran partikel bahan baku dapat dilakukan dengan teknik pemotongan, pengglingan, maupun penghancuran bahan.
Adapun perlakuan terlebih dahulu dilakukan pengeringan bahan yang bertujuan untuk terjadinya penguapan sebagian air dalam bahan baku, sehingga kadar air bahan menurun. Dan juga bertujuan untuk mempermudah pengeluaran solute dalam bahan, mempermudah proses pengecilan ukuran dan meningkatkan mutu ekstrak dengan menghindari adanya air dalam ekstrak.
2. Temperatur
Faktor yang mempengaruhi kualitas minyak atsiri berdasarkan suhu yang digunakan. Apabila suhu yang digunakan berlebihan atau tidak cocok dengan daya tahan bahan baku akan menghancurkan senyawa minyak tanaman tersebut.
Kelarutan bahan yang diektraksi dan difusivitas akan meningkat dengan meningkatnya temperatur. Namun temperatur yang terlalu tinggi dapat merusak bahan yang diekstrak, sehingga perlu menentukan temperatur optimum.
3. Faktor Pengadukan
Faktor ini dapat mempercepat pelarutan dan meningkatkan laju difusi solute. Pergerakan pelarut di sekitar bahan baku akibat pengadukan dapat mempercepat kontak bahan dengan pelarut dan memindahkan komponen dari permukaan bahan ke dalam larutan dengan jalan membentuk suspensi serta melarutkan komponen ke dalam media pelarut.
Pengadukan dalam dilakukan dengan teknik mekanis, pengaliran udara atau kombinasi keduanya.
4. Pemilihan Pelarut
Faktor ini mempengaruhi proses ekstraksi dengan jenis komponen aktif bahan yang terektrak karena masing-masing pelarut mempunyai selektifitas yang berbeda untuk melarutkan komponen aktif dalam bahan. Berbagai syarat pelarut yang digunakan untuk proses ekstraksi yaitu memiliki daya larut dan selektifitas terhadap solute yang tinggi.
Pelarut harus mampu melarutkan komponen yang diinginkan sebanyak mungkin dan sesedikit mungkin melarutkan bahan pengotor. Pelarut bersifat inert terhadap bahan baku, sehingga tidak beraksi dengan komponen yang akan diekstrak
Ciri-ciri pelarut yang diinginkan
  1. Reaktivitas pelarut tidak menyebabkan perubahan secara kimia pada komponen bahan ekstraksi.
  2. Tidak menyebabkan terbentuknya emulsi, korosif, tidak beracun, tidak mudah terbakar.
  3. Stabil secara kimia dan termal dan tidak berbahaya bagi lingkungan.
  4. Memiliki viskositas yang rendah, sehingga mudah untuk dialirkan.
  5. Memiliki titik didih yang cukup rendah agar mudah diuapkan.
  6. Memiliki tegangan permukaan yang cukup rendah.
  7. Setiap komponen pembentuk bahan mempunyai perbedaan kelarutan yang berbeda dalam setiap pelarut, sehingga untuk mendapatkan sebanyak mungkin komponen yang diinginkan.
  8. Murah dan mudah didapat, serta tersedia dalam jumlah yang banyak.

POS-POS TERBARU