IHDAD "MASA BERKABUNG"

IHDAD “MASA BERKABUNG”

IHDAD "MASA BERKABUNG"
IHDAD “MASA BERKABUNG”

Pengertian Ihdad

Meninggalnya suami ataupun orang dekat yang dikasihi jelas menggoreskan luka dan duka di dalam hati. Karena suasana hati yang berkabung, tak ada hasrat berhias diri, menyentuh wewangian, ataupun berpakaian indah. Syariat Islam yang mulia pun tidak mengabaikan keadaan ini. Maka dibolehkanlah ber-ihdad, bahkan wajib bagi seorang istri bila suaminya meninggal dunia, disebabkan besarnya hak suami terhadapnya. Mungkin timbul tanya, apakah ihdad itu?
Menurut Abu Zakaria Al-Anshari, ihdad berasal dari kata أَحَد َّّ dan biasa pula disebut الحِدَّةُ yang diambil dari kata حدُِّ Secara bahasa mereka mengartikan ihdad dengan المَنْعُ yang berarti cegahan atau larangan.
Secara bahasa Ihdad berasal dari kata حَدَّ- يَِحِدُّ بِمَعْنَي وَحَدَّ المَرْأَةُ yang berarti tidak bersolek atau tidak berhias karena kematian suami.
Ihdad berasal dari suku kata حِدَادٌ yang berarti menanggalkan berhias karena duka cita.
Arti ihdad adalah larangan berhias dan memakai wewangian, seperti larangan yang memberikan hukuman terhadap perbuatan maksiat, demikian menurut Ibnu Dusturiyah. sedangkan Al-Farra mengatakan “disebut juga sebagai besi karena kekuatan atau kesulitannya untuk dirubah. Adapun tahdid (pembatasan pandangan) berarti larangan menghadapkan pandangan kearah lain.
Ihdad dalam kamus Istilah Fiqih yaitu masa berkabung bagi seorang istri yang ditinggal mati suaminya. Masa tersebut adalah: empat bulan sepuluh hari, dengan larangan-larangannya, antara lain: bercelak mata, berhias diri, keluar rumah kecuali dalam keadaan terpaksa. Sedangkan menurut Ibnu Mansur, Ihdad adalah menanggalkan berhias dan bersolek untuk mempercantik diri. Ihdad artinya perkabungan perempuan yang kematian suami.
Dari definisi yang dikemukakan diatas terlihat bahwa pakaian yang dicelup warna baik pencelupan itu dilakukan ketika masih dalam bentuk kain, atau sudah menjadi pakaian, atau bahkan yang masih dalam bentuk benang sekalipun, tidak diperbolehkan dipakai dalam masa iddah kematian.

Dasar Hukum Ihdad

Berihdad atas kematian suami wajib dijalani seorang istri selama empat bulan sepuluh hari. Demikian pendapat mayoritas ulama bahkan hampir seluruh mereka kecuali Hasan Basry dan Asy-Sya’bi sepakat pendapatnya mengatakan bahwa ihdad hukumnya sunnah bagi wanita muslimah yang merdeka, selama masa iddah kematian suami. Adapun landasan hukum disyariatkannya ihdad adalah sebagai berikut:

1. Ayat Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 234 yang artinya

Artinya: “orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah Para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, Maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” Q.S (Al-Baqarah) :234

2. Hadis Nabi Muhammad SAW

عَنْ زَيْنَب بِنْتِ أَبِي سَلَمَةَ قَالَتْ : دَخَلْتُ عَلَى أُمِّ حَبِيْبَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عليه وَسَلَّمَ، قَالَتْ زَيْنَبُ سَمِعْتُ أُمِّي أُمِّ سَلَمَةَ تَقُوْلُ : جَاءَتْ امرَأَةٌ إِلىَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّ ابْنَتِي تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا وَقَدْ اشْتَكَّتْ عَيْنَاهَا أَفَتَكْتَحِلُهَا ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليهِ وَسَلَّمَ لاَ ( مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا كُلُّ ذلِكَ يَقُوْلُ لاَ ) ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا هِى أَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا (رواه مسلم )

Artinya: Dari Zainab binti Abi Salamah r.a. berkata: Dia datang ke rumah Ummu Habibah, Istri Nabi saw. Kata Zainab, aku mendengar Ummu Salamh menceritakan bahwa seorang wanita datang menemui Rasulullah saw. Kemudian bertanya, wahai Rasulullah, anak perempuanku ditinggal mati oleh suaminya, sedangkan ia mengeluh karna sakit kedua matanya , bolehkah ia memakai celak untuk kedua matanya? Rasulullah menjawab, tidak boleh. Beliau mengatakan itu dua atau tiga kali. Setiap perkataannya tersebut dikatakannya tidak boleh. Kemudian beliau bersabda, sesungguhhnya ‘iddah wanita itu empat bulan sepuluh hari. (HR. Muslim).

Sumber: www.dutadakwah.org