Kebebasan Moral

Kebebasan Moral

Kebebasan Moral

Kebebasan Moral
Kebebasan Moral

Kebebasan rasional

Kebebasan yang sebagai eksistensial merupakan kemampuan pribadi untuk mencapai tujuannya dapat ditanggapi secara berlainan, bila ditentukan syarat tambahan, bahwa tujuan hidup yang hendak dicapai, harus ada suatu tujuan yang wajar (menurut pandangan umum). Kebebasan ini disebut rasional, sebab menuntut supaya orang insyaf tentang tujuan hidup yang sebenarnya dan nilai-nilai yang sungguh berarti.
Ternayata kebebasan ini melibatkan suatu unsur objektif di dalam dirinya, sebab dituntut supaya diperhitungkan fakta hidup dan nilai-nilai hidup objektif.

1. Fakta. Apa yang paling banyak menentukan bagi ada tidaknya suatu kebebasan rasional ialah fakta bahwa tiap-tiap orang hidup bersama orang-orang lain.
2. Nilai-nilai. Bila manusia berpikir tentang tindakan mana yang wajar mana yang tidak, maka ia menjadi insyaf bahwa kebebasan yang benar tidak ditentukan oleh kecenderungen-kecenderungan jasmani dan psikis perorangan melainkan terutama oleh nilai-nilai universal, seperti kejujuran, keadilan, kebaikan hati dan sebagainya.

Ko-Eksistensi

Pada kenyataanya manusia hidup bersama orang-orang lain. Kebersamaan ini nyata dalam seluruh hidup manusia, dalam segala tindakannya. Karenanya eksistensinya yang selalu berrati juga ko-eksistensi. ia keluar dari diri sendiri kearah sesama.

1. Bahwa manusia tertuju kearah sesama manusia

menjadi nyata di bidang biologis. Tiap-tiap manusia yang lahir di dunia ini membutuhkan orang-orang lain untuk dapat hidup dan berkembang. Hal ini nyata juga di bidang psikis. Manusia membutuhkan orang lain secara psikis; tanpa orang lain ia tenggelam dalam kesepian. https://www.dosenpendidikan.com/contoh-teks-laporan-hasil-observasi/

2. Ko-eksistensi bersifat etis, bila tiap-tipa manusia

dinilai sebagai mahluk yang istimewa, dan penghargaan ini diambil sebagai prinsip aturan hidup bersama. Sikap hormat ini berlawanan dengan sikap egois yang mengunggulkan kepentingan individual sendiri. Sikap hormat itu memuncak dalam kerelaan hati untuk melayani sesama manusia, bukan karena ada suatu hak padanya, tetapi karena timbullah rasa kewajiban dalam hati sendiri.

Kesimpulannya dalam ko-eksistensi terdapat tiga tingkat:

1. Ko-eksistensi biologis-psikis, yang berdasarkan kebutuhan aku. Dalam keadaan ini aku dipandang sebagai lebih tinggi daripada sesama.
2. Ko-eksistensi etis berdasarkan kesamaan hak. Dalam keadaan ini aku dipandang sama tinggi dengan sesame. Prinsip rasional ini menjadi sumber hukum.
3. Ko-eksistensi etis berdasarkan kewajiban. Dalam keadaan ini sesame dipandang lebih tinggi daripada aku. Prinsip ini menjadi sumber moral hidup, dan sumber hidup bersama moral, yakni aku mau tunduk kepada sesama manusia demi suatu kehidupan yang luhur yang sesuai dengan kehendak Tuhan.