Kerelaan ( al-ri>d}ha )

Dalam bisnis asuransi, kerelaan dapat diterapkan pada setiap anggota (nasabah) asuransi agar mempunyai motivasi dari awal untuk merelakan sejumlah dana (premi) yang disetorkan ke perusahaan asuransi, yang difungsikan sebagai dana social (tabarru’). Dana sosial (tabarru’) memang betul-betul digunakan untuk membantu anggota (nasabah) asuransi yang lain jika mengalami bencana kerugian.
Prinsip kerelaan dalam ekonomi Islam berdasar pada firman Allah SWT:
___________ _________ __________ __ ____________ ____________ _________ _____________ ____ ___ _______ _________ ___ _______ ________ _ ____ ____________ ___________ _ ____ ____ _____ ______ ________ ____
“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…..” (QS. An-Nisa’:29)_
Larangan Riba
Di dalam asuransi unsur riba biasanya terjadi ketika perusahaan asuransi melakukan usaha dan  investasi dimana perusahaan meminjamkan dana premi yang terkumpul atas dasar bunga. Sedangkan jika dalam perusahaan asuransi syariah , dana premi yang terkumpul diinvestasikan dengan prinsip bagi hasil. Larangan riba di sini sesuai dengan firman Allah SWT:
………….._ ________ ____ __________ ________ ____________ _ …………………
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (QS. Al-Baqarah:275)_
Larangan maysir
Dalam asuransi, maysir terjadi apabila ada salah satu pihak yang diuntungkan dan pihak lain merasa dirugikan. Dan Allah telah memberi penegasan terhadap keharaman melakukan aktivitas ekonomi yang mempunyai unsur maysir (judi). Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah:90 yang berbunyi:
___________ _________ ___________ _______ __________ ______________ ____________ _____________ ______ _____ ______ ____________ _______________ __________ ___________ ____
“ Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatab itu agar kamu mendapat keberuntungan.” _
Larangan gharar (ketidakpastian)
Rasulullah SAW. Bersabda tentang gharar dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari sebagai berikut:
عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الحَصَاتِ وَعَنْ بَيْعِ الغَرَارِ. ( البخارى و مسلم )
“Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah SAW. Melarang jual beli hashah dan jual beli gharar.” (HR. Bukhari-Muslim) (3:4)_
Gharar biasa terjadi pada asuransi ketika tidak ada kejelasan atau ketidakpastian dalam dua bentuk, yakni: bentuk akad syari’ah yang melandasi penutupan polis dan sumber dana pembayaran klaim dan keabsahan syar’i penerimaan uang klaim itu sendiri._

Konsep Asuransi Syari’ah

Konsep asuransi syari’ah adalah suatu konsep di mana terjadi saling memikul resiko di antara sesama peserta. Sehingga, antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas resiko yang muncul. Saling pikul resiko ini dilakukan atas dasar saling menolong dalam kebaikan dengan cara masing-masing mengeluarkan dana tabarru’ atau dana kebajikan (derma) yang ditujukan untuk menanggung resiko._
Konsep asuransi syari’ah ini di dasarkan pada Al-qur’an surat Al-Maidah:2 yang berbunyi:
……______________ _____ _________ _____________ _ ____ ____________ _____ ________ _______________ _……..___
‘’ Tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan tan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”_
Asuransi syari’ah yang berdasarkan konsep tolong-menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan, menjadikan semua peserta dalam suatu keluarga besar untuk saling melindungi dan menanggung resiko keuangan yang terjadi di antara mereka. Konsep taka>fuli yang merupakan dasar dari asuransi syari’ah , ditegakkan di atas tiga prinsip dasar, yaitu: saling bertanggung jawab, saling bekerja sama, saling membantu dan saling melindungi.
Konsep asuransi yang ideal menurut kaidah-kaidah hukum Islam adalah asuransi yang dikelola dengan sistem mutual (saling menjamin) dan asuransi social. Konsep ini sesuai dengan cara yang disyari’atkan Islam dalam usaha mewujudkan ta‘awun, tad}ha>mun, dan berkorban. Artinya, orang yang menolong dan berderma tidak berniat mencari keuntungan, menginvestasikan uang, dan tidak menuntut “pengganti” sebagai imbalan dari apa yang telah diberikan.
Dengan demikian, hal ini termasuk cara perealisasian teori asuransi yang selamat (sesuai dengan syara’). Karena asuransi tersebut tidak lain hanya merupakan bentuk ta‘awun yang telah diatur dengan rapi, antara sejumlah besar manusia yang semuanya siap menghadapi dan mengantisipasinya, melalui sedikit subsidi yang diberikan masing-masing individu. Dengan subsidi tersebut, mereka dapat menutupi dan mengganti kerugian yang menimpa salah seorang di antara mereka.
sumber :