Konsep Kepemimpinan Jawa

Konsep kepemimpinan jawa banyak dikenal dengan tembang yang memiliki makna yang dalam sebagai motivasi bagi kehidupan kita umumnya, khususnya jawa. Berikut ini tembang yang dikutip dari kitab serat wedhatama  yang memiliki nasehat- nasehat :

Nulada laku utama, tumrap wong tanah jawi, Wong Agung ing Ngeksiganda, Panembahan Senapati, Kapati amarsudi, sudane hawa napsu, pinepsu tapa brata, tanapi ing siyang ratri, Amamangun krya-nak tyasing sasami

(Teladanilah pola hidup yang utama, untuk orang Jawa, yakni: Orang besar di Mataram, Panembahan Senapati, yang memiliki kesungguhan hati menekan gejolak hawa nafsu, diusahaakan dengan bertapa brata, diwaktu siang dan malam, tujuanya adalah untuk memberikan kebahagiaan, kesejahteraan kepada sesama).[8]

Konsep kepemimpinan jawa di antaranya :

  1. Manunggaling Kawula-Gusti Dalam Konsep Kepemimpinan Jawa = Kepemimpinan yang Berorientasi Kerakyatan.

            Kupasan mengenai keberadaan pemimpin atau raja di Jawa adalah sesuatu yang agung dan keramat menurut Kartohadikoesoemo yang di kutip Yasasusastra, raja adalah bapa-babu rakyat; raja adalah lebih dari kepala, pemimpin, pemuka, dan panutan. Seorang raja dianggap memiliki kekuatan mistik. Antara raja dan rakyatnya terjalinlah ikatan mistik.

            Di zaman dahulu bila rakyat menderita misalnya diserang wabah penyakit menular, maka raja melakukan tapa brata untuk menanges kersaning pangeran (memohon petunjuk dan pertolongan Tuhan), untuk mencegah dan melawan malapetaka tersebut. Menghadapi malapetaka yang melampaui batas kemampuan manusia, tidaklah cukup kiranya hanya dengan ikhtiar lahir, maka perlulah dilengkapi ikhtiar batin. Menurut alur nalar orang Jawa, timbulnya malapetaka antara lain disebabkan dosa manusia terhadap Tuhan. Berkaitan dengan hal itu maka raja sebagai bapa-baboning praja (bapak-ibu bagi negara beserta segenap rakyatnya) yang pertama-tama harus bertanggungjawab. Atas keinsyafan bertanggungjawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan segenap rakyatnya, maka raja lalu banyak berdoa dan memohon petunjuk serta pertolongan atau perlindungan dari penguasa alam semesta, agar segenap rakyatnya selalu terhindar dari segala penderitaan yang menimpanya. Tidak layaklah raja hidup berfoya-foya dan bersuka ria, sementara rakyatnya hidup dalam cekaman bencana dan penderitaan. Keterkaitan antara seorang pemimpin dengan Yang Maha Kuasa inilah yang menjadikan pola kepemimpinan dalam budaya Jawa bersifat agung dan sakral. Oleh karena itu, dalam mainstream kepemimpinan Jawa muncul istilah Manunggaling Kawula- Gusti.

  1.  Memayu Hayuning Bawana

Pola kekuasaan pemerintahan original Jawa bersentral pada raja dan kraton. Pemimpin yang bijaksana berarti telah memayu hayuning bawana. Ayu-hayu dan rahayu menunjuk makna keselamatan. Memayu berarti membuat selamat. Sedangkan bawana adalah istilah lain untuk buana, dunia atau jagat. [9]Di kutip dalam buku yusasusastra tahun 2011, Sumodiningrat menyatakan kepemimpinan dan keraton merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Serat Centhini-sebanyak 12 jilid- karya Kanjeng Gusti Pangeran Anom Amangkurat III yang kemudian disebut Paku Buwana V, menggambarkan kehidupan dan perkembangan keraton. Riwayat kehidupan dan perkembangan keraton diuraikan dalam Tembang Raras, dapat dipahami antara lain bahwa: ratu adalah manusia. Manusia adalah pelaku kehidupan. Pelaku kehidupan adalah pemimpin. Pemimpin adalah yang menciptakan, mempersiapkan, dan menjaga hukum alam.

sumer :

https://www.ram.co.id/gb-whatsapp-apk/