Konsep Maslahat Dalam Hukum Islam


Kata maslahah berasal dari kata kerja bahasa Arab صلح- يصلح menjadi صلحا atau  مصلحة yang berarti “sesuatu yang mendatangkan kebaikan”._
Kemaslahatan dilihat dari sisi syariah bisa dibagi tiga, ada yang wajib melaksanakannya, ada yang sunnah melaksanakannya, dan ada pula yang mubah melaksanakannya. Demikian pula kemafsadatan_, ada yang haram melaksanakan dan ada yang makruh melaksanakannya_
Demikian pula sebaliknya, apabila menghadapi mafsadah pada waktu yang sama, maka harus didahulukan mafsadah  yang paling buruk akibatnya. Apabila berkumpul antara maslahat dan mafsadah, maka yang harus dipilih yang maslahatnya lebih banyak (lebih kuat), dan apabila sama banyaknya atau sama kuatnya, maka menolak mafsadah itu sudah merupakan kemaslahatan. Hal in sesuai dengan kaidah:
دفع الضرر ر أولى من جلب النفع
Atau kaidah
دفع المفا سد مقدم على جلب المصالح_
Adapun sebagian kemaslahatan dunia dan kemafsadatan dunia dapat diketahui dengan akal sehat, dengan  pengalaman dan kebiasaan-kebiasaan manusia. Sedangkan kemaslahatan dunia dan akhirat tidak bisa diketahui kecuali dengan syariah, yaitu melalui dalil syara’ baik al-Qur’a>n, as-Sunnah, Ijma, Qiyas yang diakui (mu’tabar) dan istislah yang sahih (akurat).
Ukuran yang menjadi tolak ukur persyaratan kemaslahatan terbagi menjadi empat bagian, yaitu:
Kemaslahatan itu harus sesuai dengan Maq>ashid as-Syar‘iyah, semangat ajaran, dalil-dalil Kulli dan dalil Qoth’i baik Wurud maupun dalalahnya.
Kemaslahatan itu harus meyakinkan, artinya kemaslahatan itu berdasarkan penelitian yang cermat dan akurat sehingga tidak meragukan bahwa itu bisa mendatangkan manfaat dan menghindarkan mudarat.
Kemaslahatan itu membawa kemudahan dan bukan mendatangkan kesulitan di luar batas, artinya kemaslahatan itu bisa dilaksanakan.
Kemaslahatan itu memberi manfaat kepada sebagian besar masyarakat bukan kepada sebagian kecil masyarakat._
Berdasarkan  is@@@@@<<<<<|tqra (penelitian empiris) dan nash-nash al-Qur’a>n maupun hadis, diketahui bahwa hukum-hukum syari’at Islam mencakup di antaranya pertimbangan kemaslahatan manusia.
Maslahat yang mu‘ta>barah (dapat diterima) ialah maslahat-maslahat yang bersifat hakiki, yaitu meliputi lima jaminan dasar:
Keselamatan jiwa
Jaminan keselamatan jiwa (al-Muha>faz|hah ala an-Nafs) ialah jaminan keselamatan atas hak hidup yang terhormat dan mulia. Termasuk dalam cakupan pengertian umum dari jaminan ini ialah jaminan keselamatan nyawa, anggota badan dan terjaminnya kehormatan kemanusiaan. Mengenai yang terakhir ini, meliputi kebebasan memilih profesi, kebebasan berfikir atau mengeluarkan pendapat, kebebasan berbicara kebebasan memilih tempat tinggal dan lain sebagainya.
Keselamatan akal
Jaminan keselamatan akal (al-Muha>faz|hah ala al-‘Aql) ialah terjaminnya akal fikiran dari kerusakan yang menyebabkan orang yang bersangkutan tak berguna dimata masyarakat, sumber kejahatan, atau bahkan menjadi sampah masyarakat. Upaya preventif yang dilakukan syariat Islam sesungguhnya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan akal fikiran dan menjaganya dari berbagai hal yang membahayakan. Diharamkannya meminum arak dan segala hal yang memabukkan atau menghilangkan daya ingatan adalah dimaksudkan untuk menjamin keselamatan akal.

Keselamatan keluarga dan keturunan

Jaminan keselamatan keluarga dan keturunan (al-Muha>faz|hah ala an-Nasl) ialah jaminan kelestarian populasi umat manusia agar tetap hidup dan berkembang sehat dan kokoh, baik pekerti serta agamanya. Hal itu dapat dilakukan melalui penataan kehidupan rumah tangga dengan memberikan pendidikan dan kasih  sayang kepada anak-anak agar memiliki kehalusan budi pekerti dan tingkat kecerdasan yang memadai.
Keselamatan harta benda
Jaminan keselamatan harta benda (al-Muha>faz|hah ala al-Mal) yaitu dengan meningkatkan kekayaan secara proporsional melalui cara-cara yang halal, bukan mendominasi perekonomian dengan cara yang lalim dan curang.
Keselamatan keyakinan agama
Jaminan keselamatan agama atau kepercayaan (al-Muha>faz|hah ala ad-Din) yaitu dengan menghindarkan timbulnya fitnah dan keselamatan dalam agama serta mengantisipasi dorongan hawa nafsu dan perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada kerusakan secara penuh._
Kelima jaminan dasar itu merupakan tiang penyangga kehidupan dunia agar umat manusia dapat hidup aman dan sejahtera.
Ulama Ushul membagi maslahah kepada tiga bagian, yaitu:
Maslahah Dha>ru>riyah
Maslahah dha>ru>riyah adalah perkara-perkara yang menjadi tempat tegaknya kehidupan manusia, yang bila ditinggalkan, maka rusaklah kehidupan, merajalelalah kerusakan, timbullah fitnah, dan kehancuran yang hebat.
Perkara-perkara ini dapat dikembalikan kepada lima perkara, yang merupakan perkara pokok yang harus dipelihara, yaitu: agama, jiwa,akal, keturunan, dan harta.

baca juga :