Kumpulan Tentang Dasar Hukum Ihdad

Kumpulan Tentang Dasar Hukum Ihdad

Kumpulan Tentang Dasar Hukum Ihdad
Kumpulan Tentang Dasar Hukum Ihdad

Hadis 1 Nabi Muhammad SAW

عَنْ أُمِّ حَبِيْبَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُحِدَّ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ إِلاَّ عَلَى زَوْجِهَا أَرْبَعَةَ أَشَهُرٍ وَعَشْراً (رواه البخارى ومسلم)
Artinya: Dari Ummu Habibah r.a. katanya: saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak diperbolehkan berkabung atas seorang yang meninggal dunia lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suaminya, maka ia boleh berkabung selama empat bulan sepuluh hari. HR. al- Bukhari dan Muslim)

Hadis 2 Nabi Muhammad SAW

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ تُحِدَّ إِمْرَأَةً عَلَى مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ، إِلاَّ عَلَى زَوْجٍ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا، وَلاَتَلْبَسْ ثَوْبًا مَصْبُوْغًا، إِلاَّ ثَوْبَ عَسْبٍ وَلاَ تَكْتَحِلْ، وَلاَ تَمَسَّ طِيْبًا إِلاَّ إِذَا طَهُرَتْ نُبْذَةً مِنْ قُسْطٍ أَو أَظْفَارٍ، متّفق عليه. وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ. وَلأَبِي دَاوُدَ وَالنَّسَائِيِّ مِنَ الزِّيَادَةِ (وَلاَتَحْتَضِي) (رواه النسائ)

Artinya: Dari Ummu Athiyah, bahwasanya Rasulullah saw telah bersabda: “Tidak boleh berkabung seorang perempuan atas satu mayit lebih dari tiga malam, kecuali atas suami (boleh) empat bulan sepuluh hari, dan jangan ia pakai pakaian yang bercelup kecuali kain genggang dan jangan ia bercelak dan jangan memakai bau-bauan, kecuali kalau ia bersih, sedikit dari qusth dan azhfar.

Hadis 3 Nabi Muhammad SAW

عَنْ اُمِّ سَلَمَةِ قَالَتْ : جَعَلْتُ عَلَى عَيْنيِ صَبِِرًا بَعْدَ اَنِْ تُوَ فَّيَ اَبُو سَلمَةِ فَقَلَ رَسُوْلُ ا للهِ صَ مَ (اَِنَّهُ يَشِبُّ الوَجْهَ. فَلا تَجْعَلِيهِ اِلاّ بِااللَّيْلِ وَاَنْزَعِيْهِ بِالنَّهَارِ وَلاتمَتشِيطِي بِالطِّيْبِ، َولابِالحِنَّاءِ، فَانَّه خِضَابٌ) قُلْتُ بِأيِّ شَيْءٍ أَمْتَشِطُ ؟ قَالَ (بِالسِدْرِ) (رواه ابوداودوالنّسائيّ).
Artinya: Dari Ummu Salamah, ia berkata: sesudah wafat Abu Salamah saya pakai jadam dimata saya . maka Rasulullah saw. Bersabda :“Sesungguhnya ia itu mencantikan muka. Maka janganlah engkau pakai dia melainkan pada malam, dan buanglah dia pada siang, dan jangalah engkau bersisir dengan menggunakan barang wangi dan jangan dengan pacar, karena yang demikian itu celupan.” Saya bertanya : Dengan apa saya boleh bersisir ? Jawabnya : “Dengan bidara”.

Hadis 4 Nabi Muhammad SAW

عَنْ حَفْصَةَ أَوْعَائِشَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ قَالَ : لَايَحِلُّ لإِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَيَوْمِ الآخِرِ أَوْ تُؤمِنُ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ أَنْ تَحِدَّ عَلَى مَيِتٍ فَوْقَ ثَلاثَةِ أيّامٍ إِلاّ عَلَى زَوْجِهَا (رواه النسائى)
Artinya: Dari Hafsah atau dari Aisyah r.a, bahwa Rasulullah saw. Bersabda: Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir atau beriman kepada Allah dan Rasulnya berkabung karena kematian seorang kebih dari tiga hari kecuali karena kematian suaminya.(HR an-Nasa’i)

Hadis 5  Nabi Muhammad SAW

كُنَّا نَنْهَي أَنْ تَحِدَّ عَلَي مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاثٍ أِلاّ عَلَي زَوْجٍ أَرْبَعَةََ أَشْهُرٍ وَ عَشْرًا َلا تَلْبَسُ ثَوْبًا مَصْبُوْغًا أِلاّ ثَوْبَ عُصْبٍ وَقَدْ رُخِصَ لَنَا عِنْدَ الطُهْرِ أَوْ أِغْتَسَلَتْ اَحَدٌ أنا مِنْ مَحِيْضِهَا فِي نُبْذَةٍ مِنْ كِسْتِ أَظْفَارٍ (رواه أحمد و البخارى و مسلم و سنن اللأربعة )
Artinya: Seorang wanita tidak boleh berihdad karena kematian lebih dari tiga hari, kecuali karena kematian suami, maka ia berihdad selama empat bulan sepuluh hari. Janganlah wanita itu memakai pakaian berwarna, kecuali baju lurik, jangan menggunakan celak mata dan memakai harum-haruman, jangan memakai inai, dan menyisir rambut kecuali ia baru suci dari menstruasi, maka bolehlah ia mengambil sepotong kayu wangi. (HR: Ahmad, al-Bukhori, Muslim, Abu dawud, an-Nasa’I dan Ibnu Majah)

Hadis 6 Nabi Muhammad SAW

عَنْ أُمِّ عَطِيَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَ مَ قَالَ لَا تَحِدُّ أمْرَأَةٌ عَلَي مَيِّتٍ فَوْقَ ثَلاثٍ أِلاّ عَلَي زَوْجِ لِأَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ وَ عَشْرًا وَلا تَلْبَسُ ثَوْبًا مَصْبُوْغًا أِلّا ثَوْبَ عُصْرٍ وَلا تَكْتَحِلُ وَلا تَمَسُّ طِيْبًا أِلّا اِذَا طَهَرَتْ نُبْذَةٌ مِنْ قِسْطٍ أَوْ أَظْفَارٍ (رواه البخاري)
Artinya: Kami dilarang berkabung atas seorang yang meninggal dunia lebih dari tiga hari, kecuali atas kematian suami yaitu empat bulan sepuluh hari. Kami tidak memakai celak, tidak menggunakan pakaian yang diberi bahan pewarna, kecuali pakaian yaman dan tidak menggunakan wewangian. Sungguh kami diberi kemurahan ketika bersuci, yaitu jika salah seorang diantara kami mandi dan haid, maka diperbolehkan untuk menggunakan sedikit dari qust dan adhfar. (HR. Bukhari).

Hadis 7 Nabi Muhammad SAW

جَاءَتِ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ أِنَّ أبْنَتِي تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا، وَقَدِ اشْتَكَتْ عَيْنَهَا، أَفَتَكْحِلُهَا؟ فَقَالَ: لاَ- مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا،
Artinya : “Datang seorang wanita menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia berkata, ”Wahai Rasulullah, suami putriku telah meninggal dunia. Sementara putriku mengeluhkan rasa sakit pada matanya. Apakah ia boleh mencelaki matanya?” ”Tidak,” jawab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak dua atau tiga kali.”

Baca Juga: