Logika komsumsi

Komsumsi pada dasarnya adalah matarantai terakhir dalam aktivitas ekonomi tempat di ubahnya modal, dalam bentuk uang menjadi komoditas-komoditas melalui proses produksi materiel (Lee, 2006: 3). Seluruh aktivitas produkasi, di mana perusahaan mempekerjakan kaum buruh, mengembangkan menejemen produksi, mencetak produk dan kemudian memasarkannya ke konsumen, muara dari seluruh aktivitas ekonomi ini adalah bagaimana produk atau komoditas yang dihasilkan leku dan kemudian dikomsumsi masyarakat.
Dalam pemikiran Adam smith, masyarakat yang kapitalistik dan rasional pada umumnya baru membeli dan mengkomsumsi seuatu ketika mereka membutuhkan, dan itupun dengan dasar pertimbangan yang rasional: mengalkulasi untung rugi dan dibanyangan masyarakat senantiasa mencari komoditas dengan harga yang terendah karena disitulah sifat rasional masyarakat bekerja (Skousen, 2006: 15-54).
Menurut Jean P. Baudrillard logika komsumsi tidak hanya harus terfokus pemanfaatan nilai guna barang dan jasa oleh individu, namun terfokus pada produksi dan menipulasi sebuah penanda sosial (Ritzer, dalam Baudrillard, 2006: xxii). Komsumsi dalam pandangan Baudrillard (1970), dilihat bukan sebagai kenikmatan atau kesenanggan yang dilakukan masyarakat sevcara bebas dan rasional, melainkan sebagai sesuau yang terkembagakan, yang dipaksakan kepada masyarakat, dan seolah merupakan suatu tugas yang tidak terhindarkan.

D.     Perilaku Komsumsi Masyarakat Post Idustri

 
Konsep masyarakat post-industrial mengindikasikan perubahan signifikan dalam karakteristrik sentral masyarakat industri (industrial society)—yang menjadi fase sebelumnya—dalam hal meningkatnya pemanfaatan teknologi dan mekanisasi bagi kerja, meningkatnya komunikasi, transportasi, pasar, dan income; urbanisme menjadi way of life, pembagian tenaga kerja (division of labor) semakin kompleks; ditandai dengan peningkatan peran Negara, serta birokratisasi dalam pemerintahan dan ekonomi; juga ditandai dengan peningkatan sekularisasi dan rasionalisasi. Jadi, masyarakat post-industrial merupakan perkembangan lebih lanjut dari masyarakat-masyarakat indutri maju. Dalammakalah ini akan dibahas mengenai perilaku ekonomi dan konsumsi mayarakat post-industrial.
Berbeda dengan kapitalisme awal dan era kapitalisme yang modern yang dominasi mereka lebih mengandalkan pada kekuatan modal dan eksploitasi terhadap nilai lebih tenaga kerja yang ada, kapitalisme lanjut di era post-industrial umumnya lebih banyak mengandalkan pada kemampuan memanipulasi ideologi, menebar perangkat ide-ide kultural yang menciptkan kebutuhan semu dan hasrat yang kuat untuk selalu memberi produk-produk industri budaya serta kemampuan memanfaatkan teknologi informasi untuk menciptakan inperialisme kultural melalui budaya populer dan iklan. Dengan mensiptakan dan memanfaatkan ikon-ikon budaya, idola yang memesona, iklan yang sangat sugestif dan dunia simulasi yang mengalahkan realitas alamiah. Ini semua membuat para konsumen masuk dalam perangkat impian dan dunia halusinasi yang memabukkan.
baca juga :