Pengertian Qadha dan Qadar Lengkap

Pengertian Qadha dan Qadar Lengkap

Pengertian Qadha dan Qadar Lengkap

Pengertian Qadha dan Qadar Lengkap
Pengertian Qadha dan Qadar Lengkap

Pengertian

Qadha adalah ketentuan Allah yang berlaku bagi setiap makhluk sejak zaman azali. Qadha juga bisa diartikan sebagai hukum Allah SWT yang telah Dia tentukan untuk alam semesta alam ini dan Dia jalankan alam ini sesuai dengan konsekuensi hukumnya dari sunnah-sunnah yang Dia kaitkan antara akibat dengan sebab-sebabnya, semenjak Dia menghendakinya sampai selama-lamanya.
Qadar yaitu perwujudan qadha Tuhan bagi manusia setelah berusaha (ikhtiar), dapat juga diartikan sebagai penentuan atau pembatasan ukuran segala sesuatu sebelum terjadinya dan menulisnya di lauhil mahfudz.
Beriman kepada qadar yaitu membenarkan dengan sesungguhnya bahwa yang terjadi baik dan buruk itu adalah atas qadha dan qadar Allah.
Segala yang terjadi pada alam semesta dan pada jiwa manusia semua itu sudah ditakdirkan oleh Allah dan ditulis sebelum diciptakannya makhluk. Semua yang telah ditakdirkan Allah adalah untuk sebuah hikmah yang diketahui oleh-Nya. Allah tidak pernah menciptakan kejelekan yang murni, akan tetapi ia masih dalam rentetan makhluknya. Segala sesuatu apabila dinisbatkan kepada Allah adalah keadilan, rahmat dan hikmah. Maka keburukan murni tidak termasuk ke dalam sifat Allah dan tidak juga ke dalam perbuatan-Nya. Dia memiliki kesempurnaan mutlak. Firman Allah yang artinya : “Apasaja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri”. (QS. An Nisa: 79).

Pada suatu malam, selepas menunaikan sholat isya, Rasulullah saw mengunjungi rumah menantu rumah menantunya. Ali ra saat itu dilihat menantunya sudah tidur lelap, sedang waktu masih terlampau sore. Rasulullah saw lalu berkata: “Alangkah baiknya kalau sebagian dari waktu malammu dipergunakan untuk melakukan shalat sunat”. Ali ra menjawab: “ya Rasulullah, diri kita semua ini berada dalam genggaman kekuasaan Allah. Jikalau dia menghendakinya, tentu dilimpahkan oleh-Nya rahmat kepada kita, dan jikalau Dia menghendaki tentu ditariknya kembali rahmat itu”.
Mendengar jawaban itu, Rasulullah saw dengan nada kecewa, keluar meninggalkan rumah menantunya itu sambil memukul-mukul pahanya dan berkata “Sungguh manusia itu amat banyak sekali membantah-Nya”.
Riwayat tersebut memberi petunjuk terhadap ketidaksetujuan Rasulullah saw kepada mereka yang berpandangan bahwa segala sesuatu tergantung kepada kehendak Tuhan semata, dan kurang memperhatikan peran kerja atau amal ibadah.

B. Tingkatan Beriman Kepada Takdir

1. Al Ilm (pengetahuan)

Yaitu mengimani dan meyakini bahwa Allah Maha Tahu atas segala sesuatu. Dia mengetahui apa yang ada di langit and bumi, tak asa sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

2. Al Kitabah (penulisan)

Yaitu percaya bahwa Allah telah menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam lauhil mahfudz yang ada di sisi-Nya. Tiada sesuatu pun yang terlupakan.

3. Al Masyi’ah (kehendak)

Yaitu segala sesuatu yang terjadi, atau tidak terjadi di langit dan bumi adalah kehendak Allah, dan Allah telah menetapkan bahwa apa yang diperbuat-Nya adalah dengan kehendak-Nya.

4. Al Khalq (penciptaan)

Yaitu mengimani bahwa apa yang terjadi dari perbuatan Allah adalah ciptaan-Nya. Segala yang ada di langit dan bumi, dan seisinya adalah ciptaan Allah termasuk apa yang terjadi dalam makhluk-Nya seperti sifat, perubahan dan keadaan.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/