Penjelasan Makna Dan Hakikat Al-Qabidh Dan Al-Baasith

Penjelasan Makna Dan Hakikat Al-Qabidh Dan Al-Baasith

Penjelasan Makna Dan Hakikat Al-Qabidh Dan Al-Baasith

Penjelasan Makna Dan Hakikat Al-Qabidh Dan Al-Baasith
Penjelasan Makna Dan Hakikat Al-Qabidh Dan Al-Baasith

Penjelasan Makna dan Hakikat Al-Qabidh dan Al-Baasith

Dalam fatwa Islam sangat terkenal bahwa aneka macam riwayat yang menandakan wacana jumlah Asmaul Husna yaitu 99, salah satu riwayat menandakan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh : Bukhari, Muslim, Attarmizi, Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya menyampaikan : ” Sesungguhnya Allah mempunyai 99 nama , seratus kurang satu siapa yang ‘Ahshaha’ (mengetahui, menghitung, memeliharanya) maka dia masuk sorga, Allah ganjil bahagia pada yang ganjil”.
Bermacam-macam penafsiran ulama dari kata ‘Ahshaha’ antara lain dalam arti memahami maknanya dan mempercayainya ataupun melakukan kandungan-Nya (berakhlak dengan nama-nama itu). Yang jelasnya bahwa ada insan yang sekedar membaca nama-nama itu disertai dengan mengagumkanNya, ada juga yang mempercayai kandungan makna-maknaya, ada juga yang menghafal, memahami maknanya dan mengamalkan kandungannya, demi untuk memperoleh curahan rahmat dari Allah. Diantara 99 nama Allah, maka kami akan mengurai makna dari salah satu asma Allah yakni Al-QABIDH WA AL-BAASITH.

Penjelasan Makna dan Hakikat Al-Qabidh dan Al-Baasith

Al-Qabidh

terambil dari akar kata yang makna dasarnya berarti ” sesuatu yang diambil” dan “keterhimpunan pada sesuatu”. Dari sini lahir makna-makna menyerupai menahan/menggenggam, menghalangi, “kikir” dan “menyempitkan”.
Sedangkan Al-Baasith, terambil dari akar yang bermakna dasarnya ialah “keterhamparan”, kemudian dari makna ini lahir makna-makna lain seperti, “memperluas”, dan “melapangkan” Karena itu para pakar-pakar bahasa menyatakan bahwa kedua kata diatas, bertolak belakang maknanya.

Azzajaj, pakar bahasa yang menulis wacana Asmaul Husna, beropini bahwa tidak etis kalau menyebut Al-Qabidh tanpa menyebut Al-Baasith, alasannya kesempurnaan kekuasaanNya gres tercermin kalau disebut keduanya secara bersamaan.
Dalam Al-Qur’an tidak ditemukan kedua kata Al-Qabidh dan Al-Baasith sebagai sifat Allah, tetapi ditemukan kata kerja keduanya dengan pelaku ialah Allah, diantaranya dalam surah Al-Baqarah ayat 245 :
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Siapakah yang mau memdiberimu sumbangan kepada Allah, sumbangan yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah Yaqbudh/menyempitkan dan Yabsuth melapangkan (reski) dan kepadaNya-lah engkau dikembalikan”.
Selain dari pada ayat tersebut di atas, diayat lain juga terdapat kata Qabadha dalam bentuk kata kerja. Ketika Allah menguraikan wacana kekuasaanNya memanjankan dan memendekkan bayang-bayang, serta keadaan bumi yang berada dalam genggaman tanganNya. sepertiyang Firman Allah :
أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا
“Apakah engkau tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan dan memendekkan bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki pasti Dia mengakibatkan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu”
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka tidak mengungkan Allah dengan pengungan yang semestinya, pada hal bumi seluruhnya berada dalam genggamanNya pada hari simpulan zaman dan langit dengan tangan kananNya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan” (Q.S.Az-zumar ayat 67)
Walau dalam Al-qur’an tidak ditemmukan kata Qabidh dan dan Basith yang menunjukkan kepada Allah, tetapi kedua kata ini ditemukan pada hadist Rasul Saw, yakni sabda ia ketika salah seorang teman akrab ia mengusulkan semoga Nabi memutuskan patokan harga ketika menghadapi kenaikan -harga-harga. Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah ialah Pencipta, Dia Al-Basith dan Ar-Raziq, Penetap harga. Sesungguhnya saya mengharap bertemu dengan Allah dan ketika itu tidak seorangpun dari kalian yang menentukan manyangkut penganiayaan darah atau harta” (H.R. Abudaud, Attirmizi, dan Ibnu Majah melalui Anas bin Malik).
Ditemukan juga sabda Rasul Saw;
“Sesungguhnya Allah menahan nyawa/jiwa engkau bila Dia menghendaki dan mengembalikannya jikalau Dia menghendaki”. Hadist ini sejalan maknanya dengan firman-Nya:
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu pulasnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang sudah Dia menetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain hingga waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat gejala kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir” (Q.s. Az-Zumar 39 : 42).

Dari sini sanggup dipahami bahwa Allah bersifat Qa idah dalam arti Dia mencabut dan menahan ruh dikala maut dan dikala pulas makhluk, sebagaimana Dia juga menahan rezeki, sesuai dengan hukum-hukum yang diputuskan-Nya secara kebijakan yang ditempuh-Nya. Allah SWT juga, yang memanjangkan dan memendekkan bayangan, sesuai dengan hukum-hukum alam yang mengatur perjalanna matahari.

Baca Juga: Sifat Allah

Al-Basith

sebagaimana dikemukakan di atas mengandung makna “keterhamparan” kemudian dari makna ini lahir makna-makna lain seperti “memperluas” dan “melapangkan”. Rezeki dilapangkan-Nya sesuai pula dengan hikmah kebijaksanaan-Nya, “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetap Allah menurunkan apa yang dikhendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat” (Q.s. Asy-Sy u ra 42 : 27).

Kata “Bash” juga berarti “gembira”. Seorang yang gundah dadanya bagaikan sempit, sedang yang gembira, terhindar dari keresahan (dadanya lapang). Allah sebagai Al-Baasith, melapangkan dada hamba-hamba-Nya sehingga selalu hidup dalam optimisme dan kegembiraan.
Ada juga yang memahami kata Al-Baasith dengan mengaitkannya dengan kata Al-Qabidh. Kalau Al-Qabidh bermakna mewafatkan dengan menahan nyawa sehingga tidak kembali ke jasmani, maka Al-Baasith ialah menghampar dan melepaskannya sehingga berdiri kembali sehabis kematian, pada hari kebangkitan kelak.

Al-Qur’an juga memakai kata Al-Baasith untuk pengetahuan dan kebugaran jasmani. Ketika sekelompok Bani Israil keberatan atas pengangkatan Thakut menjadi Raja. Keberatan tersebut dijawaban oleh Nabi mereka :

“Sesungguhnya Allah sudah memilihnya menjadi rajamu dan menganugrahinya Basthatan dalam ilmu dan tubuh (Q.S.Al-Baqarah ayat 247)

Basthatan yang dimaksudkan ialah keluasan dalam ilmu dan ketegaran dalam tubuh.
Imam Al-Gazali menyimpilkan bahwa Al-Qabidh ialah yang mengenggam nyawa dikala maut dan menghamparkannya dikala kebangkitan. Dia juga menggenggam sedekah dari orang kaya dan menghamparkan reski bagi orang miskin. Dia tidak memperluas reski bagi si kaya, sehingga terasa tidak ada lagi kebutuhan, serta menahannya dari si miskin, sehingga bagaikan habis sudah disinya kemampuan. Dia juga menyempitkan dada sehingga terasa sesak dan melapangkannya sehingga segala sirna keresahan. Demikian Allah Al-Baasith, dan Al-Qabidh