Peradaban Islam Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Peradaban Islam Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Peradaban Islam Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Peradaban Islam Pada Masa Khulafaur Rasyidin
Peradaban Islam Pada Masa Khulafaur Rasyidin

 Latar Belakang Masalah

Apa yang dipahami dari sejarah peradaban ekonomi Islam, hakikatnya adalah memahami sejarah perjalanan panjang Islam yang titik puncaknya adalah sejarah hidup Rasulullah SAW. Hanya Muhammad SAW sebagai tolok ukur yang nyata dari semua aspek perilaku kehidupan Islam. Adam Smith, tokoh ekonomi Barat dalam bukunya The Wealth of Nation, menyatakanbahwa ekonomi yang paling maju adalah ekonomi bangsa Arab yang dipimpin oleh Muhammad bin Abdullah dan orang-orang sesudahnya meskipun tidak dipungkiri terdapat sejarah panjang sebelum kedatangan Islam Nabi Muhammad SAW. Betul, pengaruh Romawi dan Yunani menjadi bukti sejarah nyata terhadap sejarah ekonomi Islam, meskipun porsinya kecil. Akan tetapi, perjalanan Islam tidak akan terlepaskan dari figur Muhammad SAW dan para penerusnya, yakni Al-Khulafa Ar-Rasyidun, tabi’in, dan para pemikir ekonomi, baik pada masa pemerintahan Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah. Dengan demikian, memahami peradaban ekonomi Islam, pada dasarnya memahami sejarah. Yang paling pokok dari sejarah adalah meluruskan sejarah secara tepat dan akurat.

  1. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, penyusun memaparkan beberapa rumusan masalah, sebagai berikut:

  1. Siapakah sosok Khulafa al-Rasyidin?
  2. Bagaimanakah peradaban Islam pada masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq?
  3. Bagaimanakah peradaban Islam pada masa Khalifah Umar bin Khatab?
  4. Bagaimanakah peradaban Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan?
  5. Bagaimanakah peradaban Islam pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib?

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Sosok Khulafa al-Rasyidin

Khulafaur Rasyidin (bahasa Arab: الخلفاء الراشدون) atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wafat. Empat orang tersebut adalah para sahabat dekat Muhammad yang tercatat paling dekat dan paling dikenal dalam membela ajaran yang dibawanya di saat masa kerasulan Muhammad.

Para Khulafaur Rasyidin itu adalah pemimpin yang arif dan bijaksana. Mereka itu terdiri dari para sahabat Nabi Muhammad SAW yang berkualitas tinggi dan baik adapun sifat-sifat yang dimiliki Khulafaur Rasyidin sebagai berikut:

  1.   Arif dan bijaksana
  2.   Berilmu yang luas dan mendalam
  3.   Berani bertindak
  4.   Berkemauan yang keras
  5.   Berwibawa
  6.   Belas kasihan dan kasih sayang
  7.   Berilmu agama yang amat luas serta melaksanakan hukum-hukum Islam.

Dalam sejarah Islam, empat orang pengganti Nabi yang pertama adalah para pemimpin yang adil dan benar. Mereka menyelamatkan dan mengembangkan dasar-dasar tradisi dari sang Guru Agung bagi kemajuan Islam bagi kemajuan Islam dan umatnya. Karena itu gelar “yang mendapat bimbingan dijalan lurus” (al-khulafa ar-rasyidin) diberikan pada mereka.[1]

Keempat khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan keturunannya, melainkan berdasarkan konsensus bersama umat Islam. Sistem pemilihan terhadap masing-masing khalifah tersebut berbeda-beda, hal tersebut terjadi karena para sahabat menganggap tidak ada rujukan yang jelas yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad tentang bagaimana suksesi kepemimpinan Islam akan berlangsung. Namun penganut paham Syi’ah meyakini bahwa Muhammad dengan jelas menunjuk Ali bin Abi Thalib, khalifah ke-4 bahwa Muhammad menginginkan keturunannyalah yang akan meneruskan kepemimpinannya atas umat Islam.

Sahabat yang disebut Khulafaur Rasyidin terdiri dari empat orang khalifah yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

  1. Peradaban Islam pada Masa Khalifah Abu Bakar As-Shidiq (11–13 H /632–634 M)

Abu Bakar, nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abi Quhafah bin Utsman bin Amr bin Masud bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr At-Taimi Al-Qurasyi. Di zaman pra-Islam bernama Abdul Ka’bah, kemudian diganti oleh Nabi menjadi Abdullah. Ia termasuk salah seorang sahabat yang utama (orang yang paling awal) masuk Islam. Gelar Ash-Shiddiq diperolehnya karena ia dengan segera membenarkan Nabi dalam berbagai peristiwa, terutama Isra’ dan Mi’raj. Abu Bakar memangku jabatan khalifah selama dua tahun lebih sedikit, yang dihabiskannya terutama untuk mengatasi berbagai masalah dalam negeri yang muncul akibat wafatnya Nabi.[2]

Abu Bakar memangku jabatan khalifah selama dua tahun lebih sedikit, yang dihabiskannya terutama untuk mengatasi berbagai masalah dalam negeri yang muncul akibat wafatnya Nabi.

Sepak terjang pola pemerintahan Abu Bakar dapat dipahami dari pidato Abu Bakar ketika ia diangkat menjadi khalifah. Secara lengkap, isi pidatonya sebagai berikut:[3]

“Wahai manusia! Sungguh aku telah memangku jabatan yang kamu percayakan, padahal aku bukan orang yang terbaik di antara kamu. Apabila aku melaksanakan tugasku dengan baik maka bantulah aku, dan jika aku berbuat salah maka luruskanlah aku. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan kedustaan adalah suatu pengkhianatan. Orang yang lemah di antara kamu adalah orang kuat bagiku sampai aku memenuhi hak-haknya, dan orang kuat di antara kamu adalah lemah bagiku hingga aku mengambil haknya, Insya Allah. Janganlah salah seorang dari kamu meninggalkan jihad. Sesungguhnya kaum yang tidak memenuhi panggilan jihad maka Allah akan menimpakan atas mereka suatu kehinaan. Patuhlah kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak menaati Allah dan Rasul-Nya, sekali-kali janganlah kamu menaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kamu.

Ucapan pertama ketika dibai’at ini menunjukkan garis besar politik dan kebijaksanaan Abu Bakar r.a. dalam pemerintahan. Di dalamnya terdapat prinsip kebebasan berpendapat, menuntut ketaatan rakyat, mewujudkan keadilan dan mendorong masyarakat berjihad serta shalat sebagai intisari ketakwaannya. Secara umum, dapat dikatakan bahwa pemerintahan Abu Bakar melanjutkan kepemimpinan sebelumnya, baik kebijaksanaan dalam kenegaraan maupun pengurusan terhadap agama.

Dalam pemerintahannya Abu Bakar memiliki tipologi kebijakan yang sangat baik diantaranya:[4]

  1.   Kebijaksanaan pengurusan terhadap agama

Pada awal pemerintahannya, ia diuji dengan adanya ancaman yang datang dari umat Islam yang menentang kepemimpinannya. Di antara perbuatan ingkar tersebut ialah timbulnya orang-orang yang murtad, orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat, orang-orang yang mengaku menjadi Nabi, dan pemberontakan dari beberapa kabilah.

Ketika Rasulullah SAW wafat, maka banyak orang Arab yang kembali murtad. Seiring dengan itu, banyak pula utusan orang-orang Arab berdatangan ke Madinah mengakui kewajiban sholat namun mengingkari kewajiban zakat. Abu Bakar bersikap tegas kepada mereka, dan merekapun ditumpasnya. Melihat hal ini, Umar pun berkata: “Akhirnya aku sadari bahwa Allah telah melapangkan hati Abu Bakar untuk memerangi mereka dan aku yakin itulah yang benar”.

Disamping banyak umat yang murtad dan menolak bayar zakat, ada pula beberapa orang yang mengaku menjadi nabi, diantaranya yang paling berpengaruh adalah Musailamah Al-Kadzab. Ia memiliki pengikut mencapai 40.000 personil dari kalangan Bani Hanifah. Abu Bakar mengirim pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid untuk menumpas mereka. Dalam perang Yamamah yang hebat, Khalid bin Walid memperoleh kemenangan yang besar.

Di samping itu, Jasa Abu Bakar yang abadi ialah atas usulan Umar, ia berhasil membukukan al-Qur’an dalam satuan mushaf, sebab setelah banyak penghafal al-Qur’an gugur dalam perang Riddah di Yamamah. Oleh karena itu, khalifah menugaskan Zaid ibn Tsabit untuk membukukan al-Qur’an dibantu oleh Ali ibn Abi Thalib. Naskah tersebut terkenal dengan naskah Hafsah yang selanjutnya pada masa khalifah Usman membukukan al-Qur’an berdasarkan mushaf itu, kemudian terkenal dengan Mushaf Utsmani yang sampai sekarang masih murni menjadi pegangan kaum muslim tanpa ada perubahan atau pemalsuan.

  1.   Kebijaksanaan politik kenegaraan

Di antara kebijakan politik Abu Bakar yang cukup menonjol adalah melanjutkan ekspedisi pasukan Usamah. Sebelum Rasulullah SAW. wafat, beliau telah memerintahkan sepasukan perang yang dipimpin oleh seorang anak muda, Usamah, untuk berjalan menuju tanah Al-Balqa yang berada di Syam, persisnya di tempat terbunuhnya Zaid bin Haritsah, Ja’far dan Ibnu Rawahah. Namun di tengah perjalanan terdengar berita wafatnya Rosulullah SAW, sehingga pasukan tersebut kembali ke kota Madinah.

Begitu Abu Bakar menjadi kholifah, maka ekspedisi ini dilanjutkan kembali. Semula banyak sahabat yang mengusulkan termasuk Umar bin Khattab, agar ekspedisi ini ditunda mengingat banyaknya persoalan di kota Madinah. Namun Abu Bakar tetap pada pendiriannya. Ternyata berangkatnya pasukan Usamah membawa kemaslahatan besar waktu itu. Disamping pulang dengan membawa kemenangan, juga sekaligus telah menimbulkan kegentaran besar pada perkampungan Arab yang dilewati sehingga tidak berani memberontak.

Setelah berhasil melakukan ekspedisi pasukan Usamah, Abu Bakar meyakinkan kesungguhannya untuk menaklukkan negeri Iraq, pada periode ini merupakan langkah awal menaklukkan wilayah-wilayah timur pada masa khulafaur rasyidin berikutnya. Dan pada periode perdana ini pasukan dipimpin oleh Panglima Perang Khalid bin Wahid.

Sedang diantara kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan atau kenegaraan, diuraikan oleh Suyuthi Pulungan, sebagai berikut:[5]

  1. Bidang eksekutif

Pendelegasian terhadap tugas-tugas pemerintahan di Madinah ataupun daerah. Misalnya untuk pemerintahan pusat menunjuk Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan Zaid bin Tsabit sebagai sekretaris dan Abu Ubaidah sebagai bendaharawan.

  1. Bidang pertahanan dan keamanan

Dengan mengorganisasi pasukan-pasukan yang ada guna mempertahankan eksistensi keagamaan dan pemerintahan. Dari pasukan itu disebarkan untuk memelihara stabilisasi di dalam atau di luar negeri. Di antara panglima yang ada ialah Khalid bin Walid, Musanna bin Harisah, Amr bin ‘Ash, Zaid bin Sufyan, dan lain-lain.

  1. Bidang yudikatif

Fungsi kehakiman dilaksanakan oleh Umar bin Khattab dan selama masa pemerintahan Abu Bakar tidak ditemukan suatu permasalahan yang berarti untuk dipecahkan. Hal ini didorong atas kemampuan dan sifat Umar, dan masyarakat pada waktu itu dikenal ‘alim.

  1.   Kebijaksanaan Bidang Sosial Ekonomi

Faktor keberhasilan Abu Bakar dalam membangun pranata sosial di bidang ekonomi tidak lepas dari faktor politik dan pertahanan keamanan, Keberhasilan tersebut tidak pula lepas dari sikap keterbukaannya, yaitu memberikan hak dan kesempatan yang sama kepada tokoh-tokoh sahabat untuk ikut membicarakan berbagai masalah sebelum ia mengambil keputusan melalui forum musyawarah sebagai lembaga legislatif. Hal ini mendorong para tokoh sahabat khususnya dan umat Islam umumnya, berpartisipasi aktif untuk melaksanakan berbagai keputusan yang dibuat.

Dalam usaha meningkatkan kesejahteraan umat Islam, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq melaksanakan berbagai kebijakan ekonomi seperti yang telah dipraktikkan Rasulullah SAW. Ia sangat memerhatikan keakuratan penghitungan zakat sehingga tidak terjadi kelebihan atau kekurangan pembayarannya. Abu Bakar pernah berkata kepada Anas, “Jika seseorang mempunyai kewajiban untuk membayar zakat berupa seekor unta betina berumur 1 tahun, tetapi dia tidak mempunyainya lalu menawarkan seekor unta betina berumur 2 tahun, hal seperti itu dapat diterima dan petugas zakat akan mengembalikan kepada orang tersebut sebanyak 20 dirham atau 2 ekor domba sebagai kelebihan dari pembayaran zakatnya. Hasil pengumpulan zakat tersebut dijadikan sebagai pendapatan negara dan disimpan dalam Baitul Mal untuk langsung didistribusikan seluruhnya  kepada kaum  muslim hingga tidak ada yang tersisa. Selain dari dana zakat, di dalam Baitul Mal dikelola harta benda yang didapat dari infak, sedekah, ghanimah dan lain-lain. Penggunaan harta tersebut digunakan untuk gaji pegawai negara dan untuk kesejahteraan umat sesuai dengan aturan yang ada.[6]

Dalam kegiatan ekonominya, setiap hari mereka disibukkan sengan persoalan air dan rumput. Pada hari ke-dua Setelah pengangkatannya sebagai khafilah, Abu Bakar membawa bahan-bahan pakaian dagangan di atas pundaknya dan pergi untuk menjualnya. Salah satu aspek penting perekonomian arab pra-islam adalah pertanian. Perdagangan adalah unsur penting dalam perekonomian arab. Komoditas exspor arab selatan dan yaman adalah dupa, kemenyan, kopi, gaharo, minyak wangi, kulit binatang, buah kismis, anggur dan lainnya. lomoditas yang mereka impor dari dari afrika timur antara lain: kayu untuk bangunan, bulu burung unta, lantakan logam mulia dan badak. dari asia selatan dan cina berupa daging, batu mulia, sutra, pakaian, pedang, rempah-rempah. sedangkan dari negara teluk Persia mereka mengimpor intan.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/