PERBEDAAN MONNOCOTYLEDONEAE DENGAN DICOTYLEDONEAE

PERBEDAAN MONNOCOTYLEDONEAE DENGAN DICOTYLEDONEAE

PERBEDAAN MONNOCOTYLEDONEAE DENGAN DICOTYLEDONEAE

PERBEDAAN MONNOCOTYLEDONEAE DENGAN DICOTYLEDONEAE
PERBEDAAN MONNOCOTYLEDONEAE DENGAN DICOTYLEDONEAE

 

Perbedaannya Adalah Sebagai  Berikut

Tumbuhan monokotil : Famili Liliaceae, Famili Amaryllidaceae, Famili Poaceae, Famili Zingibera ceae. Famili Musaceae , Famili Orchidaceae , Famili Arecaceae , Famili Areceae

Tumbuhan dikotil : Euphorbiaceae , Moraceae , Papilionaceae , Caesalpiniaceae , Mimosaceae , Malvaceae , Bombacaceae , Rutaceae , Myrtaceae , Verbenaceae ,Labiatae , Convolvulaceae , Apocynaceae , Rubiaceae.

CONTOH WERKSTUK Waru (Hibiscus tiliaceus L.) 

Uraian :

  • Tumbuhan tropis berbatang sedang, terutama tumbuh di pantai yang tidak berawa atau di dekat pesisir.
  • Waru tumbuh liar di hutan dan di ladang, kadang-kadang ditanam di pekarangan atau di tepi jalan sebagai pohon pelindung.
  • Pada tanah yang subur, batangnya lurus, tetapi pada tanah yang tidak subur batangnya tumbuh membengkok, percabangan dan daun-daunnya lebih lebar. Pohon, tinggi 5-15 m.
  • Batang berkayu, bulat, bercabang, warnanya cokelat.
  • Daun bertangkai, tunggal, berbentuk jantung atau bundar telur, diameter sekitar 19 cm.
  • Pertulangan menjari, warnanya hijau, bagian bawah berambut abu-abu rapat.
  • Bunga berdiri sendiri atau 2-5 dalam tandan, bertaju 8-11 buah, berwarna kuning dengan noda ungu pada pangkal bagian dalam, berubah menjadi kuning merah, dan akhirnya menjadi kemerah-merahan.
  • Buah bulat telur, berambut lebat, beruang lima, panjang sekitar 3 cm, berwarna cokelat. Biji kecil, berwarna cokelat muda.
  • Daun mudanya bisa dimakan sebagai sayuran. Kulit kayu berserat, biasa digunakan untuk membuat tali. Waru dapat diperbanyak dengan biji.

 

Nama Lokal :

  • Sumatera: kioko, siron, baru, buluh, bou, tobe, baru, beruk, melanding.
  • Jawa: waru, waru laut, waru lot, waru lenga, waru lengis, waru lisah, waru rangkang, wande, baru.
  • Nusa Tenggara: baru, waru, wau, kabaru, bau, fau.
  • Sulawesi: balebirang, bahu, molowahu, lamogu, molowagu, baru, waru.
  • Maluku: war, papatale, haru, palu, faru, haaro, fanu, halu, balo, kalo, pa.
  • Irian jaya: kasyanaf, iwal, wakati.
  • NAMA ASING Tree hibiscus.
  • NAMA SIMPLISIA Hibisci tiliaceus Folium (daun waru), Hibisci tiliaceus Flos (bunga waru).

 

Penyakit Yang Dapat Diobati :

  • Daun berkhasiat antiradang, antitoksik, peluruh dahak, dan peluruh kencing.
  • Akar berkhasiat sebagai penurun panas dan peluruh haid.

Komposisi :

  • Daun mengandung saponin, flavonoida, dan polifenol, sedangkan akarnya mengandung saponin, flavonoida, dan tanin.

Pemanfaatan :

BAGIAN YANG DIGUNAKAN

  • Bagian yang digunakan adalah daun, akar, dan bunga.

INDIKASI

  • Daun waru digunakan untuk pengobatan : TB paru-paru, batuk, sesak napas, Radang amandel (tonsilitis), Demam, Berak darah dan lendir pada anak, muntah darah, Radang usus, Bisul, abses, Keracunan singkong, Penyubur rambut, rambut rontok.
  • Akar digunakan untuk mengatasi : terlambat haid, demam.
  • Bunga digunakan untuk pengobatan : radang mata.

 

CARA PEMAKAIAN

  • Untuk obat yang diminum, gunakan daun segar sebanyak 50-100 g atau 15-30 g bunga.
  • Rebus dan air rebusannya diminum.
  • Untuk pemakaian luar, giling daun waru segar secukupnya sampai halus.
  • Turapkan ramuan ini pada kelainan kulit, seperti bisul atau gosokkan pada kulit kepala untuk mencegah kerontokan rambut dan sebagai penyubur rambut.

 

CONTOH PEMAKAIAN:
TB Paru

  1. Potong-potong 1 genggam daun waru segar, lalu cuci seperlunya. Tambahkan 3 gelas minum air bersih, lalu rebus sampai airnya tersisa sekitar 3/4-nya. Setelah dingin, saring dan tambahkan air gula ke dalam air saringannya, lalu minum, sehari 3 kali, masing-masing 3/4 gelas minum.
  2. Sediakan daun waru, pegagan (Centella asiatica L.), dan daun legundi (Vitex trifolia L.) (masing-masing 1/2 genggam), 1/2 jari bidara upas (Merremia mammosa Lour.), 1 jari rimpang kencur (Kaempferia galanga L.), dan 3 jari gula enau. Cuci semua bahan-bahan tersebut, lalu potong-potong seperlunya. Masukkan ke dalam periuk tanah atau panci email. Masukkan 3 gelas minum air bersih, lalu rebus sampai airnya tersisa 3/4nya.
  3. Setelah dingin, saring dan air saringannya siap untuk diminum, sehari 3 kali, masing-masing 3/4 gelas.
  4. Sumber : https://blog.fe-saburai.ac.id/pengertian-jenis-ciri-contoh-jaringan-meristem/