Perkembangan Sistem Pertanian dengan Irigasi di Jambi

Perkembangan Sistem Pertanian dengan Irigasi di Jambi

Perkembangan Sistem Pertanian dengan Irigasi di Jambi

Tanah yang subur di Jambi, memberikan kemudahan-kemudahan kepada masyarakat Jambi untuk mengolahnya menjadi lahan pertanian. Bahkan untuk sekarang ini, pertanian di Jambi masih dipertahankan khususnya di daerah pedesaan.  Hal ini karena menurut masyarakat Jambi, bertani adalah salah satu identitas dari mereka maka, tidak mudah untuk menjaga identitas tersebut untuk tetap berkembang, selain harus menjaganya. Seperti dalam sistem irigasi, umo renah dan umo talang yang merupakan sebuah metode periode sejarah Jambi yang harus dikerjakan secara kolektif dan turun temurun. Hal ini, menjadi bukti bahwa masyarakat Jambi sudah berdampingan dengan alam sejak dahulu. Kemudian untuk perkembangan dari sistem irigasi dengan kincir air pun sama mengalani perkembangan, dimana sekarang sudah terdapat kincir air modern yang terbuat dari besi dan pipa paralon.

Pertumbuhan pertanian di Jambi, terlihat pada tahun 1978-1986 yang cukup tinggi, dimana sektor pertanian mampu mencapai tingkat pertumbuhan diatas 5% pertahun. Sebagian besar masyarakat pedesaan Jambi masih mencukupi kebutuhan beras sehari-hari mereka dari olahan sawah sendiri. Kondisi produksi pertanian yang relatif bagus tersebut, adalah buah kebijaksanaan ekonomi makro disektor pertanian yang benar-benar berbasi pertanian. Rata-rata sektor pertanian mencapai pertumbuhan 6,8% pertahun. Produktivitas pertanian secara nasional rata-rata meningkat 5,6% pertahun cukup dirasakan manfaatnya bagi masyarakat Jambi.

  1. c)Tantangan Sistem Pertanian dengan Irigasi di Jambi

Dalam sistem pertanian di Jambi, tantangan yang kemudian muncul adalah tantangan yang biasa dihadapi oleh petani lainnya di Indonesia. Dimana, seiring dengan perkembangan zaman memumculkan alat-alat modern, misalnya traktor untuk petani. Akan tetapi harga gabah yang cenderung turun menyebabkan banyak petani yang lebih memilih menjadi buruh dan menjual sawahnya. Adanya revolusi hijau juga, selain berdampak positif ternyata ada juga dampak negatifnya dimana dengan revolusi hijau yang dicananangkan pemerintah menyebabkan adanya dampak negatif berupa sistem monokultur tanaman. Kabupaten Bungo Tebo, Batang Hari dan Kabupaten Sarko saat itu masih didominasi monokultur tanaman karet rakyat.

Sumber :

https://callcenters.id/