Post Industri

 
Post-industrial society adalah konsep ekonomi yang menjelaskan bahwa sektor jasa menghasilkan kesejahteraan yang lebih baik dibandingkan sektor industri atau manufaktur di beberapa negara. Konsep ini dipopulerkan oleh Daniel Bell. Era post-industrial society ditandai dengan:
1.      Ekonomi menuju transisi dari memproduksi barang menjadi menyediakan jasa.
2.      Pengetahuan menjadi bentuk modal yang berharga.
3.      Memproduksi ide adalah jalan utama untuk menumbuhkan ekonomi.
4.     Melalui proses globalisasi dan automasi, nilai dan kepentingan terhadap ekonomi ala kerah biru (buruh), pekerjaan yang tidak bersatu, termasuk buruh manual (contoh: pekerjaan lini perakitan) menurun. Lalu pekerjaan profesional (seperti ilmuwan, profesional di bidang industri kreatif, dan profesional IT) bertumbuh.
5.      Teknologi, sains, dan keterampilan informasi meningkat dan jadi kebiasaan sehari-hari.
Contoh dari gambaran masyarakat post industrial dapat terlihat dari perubahan sistem dalam pengiriman surat. Dulu, banyak perusahaan yang merekrut operator surat-menyurat dan penyediaan logistik pengiriman surat untuk mempermudah komunikasi perdagangan antar 2 perusahaan. Komoditas surat-menyurat dulu tergolong murah namun jumlahnya bisa jadi sangat banyak. Begitu juga dengan pegawai yang diperkerjakan, jumlahnya bisa jadi sangat banyak. Meski dengan upah yang murah.
Sekarang, pertukaran data dan informasi hanya membutuhkan biaya nyaris nol (kecuali mungkin untuk akses internet dan pulsa). Informasi diperoleh secara up-to-date dan jumlah pegawai yang dipekerjakan tak perlu terlalu banyak. Oleh karena itu, perusahaan cukup membuat sistem informasi dengan merekrut sedikit ahli IT yang jika dibandingkan dengan beban petugas surat-menyurat di masa lalu total gaji dari keduanya relatif sama. Total logistik surat-menyurat dapat dianalogikan dengan komputer, internet, dan berbagai peralatan lainnya yang jika ditotal lagi-lagi akan sama dengan kebutuhan komoditas di masa lalu. Belum lagi adanya faktor kelangkaan kertas sehingga masyarakat semakin sadar untuk mengembangkan sistem dokumentasi yang tidak berbasis kertas.
 

B.     Komsumsi

 
Sebelum membahas tertang pola perilaku komsumsi masyarakat di era post industrial, alangkah baiknya terlebih dahulu membahas tentang komsumsi itu sendiri. Agar lebih mempermudah dan memahami alur pembahasan.
 
a)      Pengertian Komsumsi
Banyak pengertian yang telah dibuat tentang komsusmsi oleha berbagai ahli dari berbagai disiplin ilmu seperti ekonomi, sosiologi, antropologi, politik dan lainnya. Dalam bab ini kita merujuk pengertian yang dibuat oleh para ahli sosiologi. Salah seorang sosiolog merumuskan pengertian komsumsi adalah Don Slater.
Menurut Don Slater (1997), konsumsi adalah bagaimana manusia dan aktor sosial dengan kebutuhan yang dimilikinya berhubungan dengan sesuatu (dalam hal ini Material, Barang simbolik, Jasa atau Pengalaman) yang dapat memuaskan mereka.
Berhubungan dengan sesuatu yang dapat memuaska mereka dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menikmati, menonton, melihat, menghabiskan, mendengar, memperhatikan, dan lainnya. Jadi pengertian Komsumsi menurut Slater tersebut, sesuai dengan istilah mengkomsumsi, seperti yang dikutip Featherstone (2001) dari Raymond Williams, sebagai merusak (to destroy), memakai (to use up), membuang (to waste), dan menghabiskan (to exhaust).
Dengan definisi yang di kemukakan Slater tersebut maka komsusmsi mengacu pada seluruh aktifitas sosial yang orang lakukan sehingga bisa dipakai untuk mencirikan dan mengenali mereka di samping apa yang mereka “lakukan” untuk hidup (Chaney, 2004), dengan demikian, tindakan komsumsi tidak hanya dipahami sebagai makna, sandang, pangan dan papan saja tetapi harus dipahami dalam berbagai fenomena dan kenyataan.
sumber :