Sifat dan Unsur Jaminan Fidusia

Adapun yang menjadi sifat dari jaminan fidusia antara lain:

  1. Jaminan Fidusia memiliki sifat accessoir.
  2. Jaminan Fidusia memberikan Hak Preferent (hak untuk didahulukan).
  3. Jaminan Fidusia memiliki sifat droit de suite.
  4. Jaminan Fidusia untuk menjamin utang yang sudah ada atau yang akan ada.
  5. Jaminan Fidusia memiliki kekuatan eksekutorial.
  6. Jaminan Fidusia mempunya sifat spesialitas dan publisitas.

Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda.

Dari perumusan diatas, dapat diketahui unsur-unsur fidusia itu, yaitu :

  1. Pengalihan hak kepemilikan suatu benda
  2. Dilakukan atas dasar kepercayaan
  3. Kebendaannya tetap dalam penguasaan pemilik benda

Dengan demikian, artinya bahwa dalam fidusia telah terjadi penyerahan dan pemindahan dalam kepemilikan atas suatu benda yang dilakukan atas dasar  fiduciair dengan syarat bahwa benda yang hak kepemilikannya tersebut diserahkan atau dipindahkan kepada penerima fidusia tetap dalam penguasaan pemilik benda (pemberi fidusia). Dalam hal ini yang diserahkan dan dipindahkan itu dari pemiliknya kepada kreditor(penerima fidusia) adalah hak kepemilikan atas suatu benda yang dijadikan sebagai jaminan, sehingga hak  kepemilikan secara yuridis atas benda yang dijaminkan beralih kepada kreditor (penerima fidusia). Sementara itu hak kepemilikan secara ekonomis atas benda yang dijaminkan tersebut tetap berada di tangan atau dalam penguasaan pemiliknya, Dengan adanya penyerahan “hak kepemilikan” atas kebendaan jaminan fidusia ini, tidak berarti kreditor penerima fidusia akan betul-betul menjadi pemilik kebendaan yang dijaminkan dengan fidusia tersebut. Dalam kedudukan sebagai kreditor (penerima fidusia), dia mempunyai hak untuk menjual kebendaan fidusia yang dijaminkan kepadanya “seolah-olah” dia menjadi atau sebagai pemilik dari kebendaan jaminan fidusia dimaksud, bila debitor(pemberi fidusia) wanprestasi. Dengan kata lain, selama debitor (pemberi fidusia)belum melunasi utangnya,selama itu pula kreditor(penerima fidusia) mempunyai hak untuk menjual kebendaan fidusia yang dijaminkan kepadanya. Ini berarti bila utang debitor(pemberi fidusia) lunas, maka kebendaan fidusia yang dijaminkan kepadanya tersebut akan diserahkan kembali kepadanya oleh kreditor (penerima fidusia)

.


  1. Objek dan Sobjek dalam jaminan fidusia

Sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia,yang menjadi objek jaminan fidusia adalah benda bergerak yang terdiri dari benda dalam persediaan, benda dalam dagangan,piutang, peralatan mesin dan kendaraan bermotor. (Salim,2004:62)

Namun dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999, yang dapat menjadi objek jaminan fidusia diatur dalam Pasal 1 ayat (4), Pasal 9, Pasal 10 dan Pasal 20 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999, benda-benda yang menjadi objek jaminan fidusia adalah: (Fuady,2005:23)

  1. Benda yang dapat dimiliki dan dialihkan secara hukum.
  2. Dapat berupa benda berwujud.
  3. Benda berwujud termasuk piutang.
  4. Benda bergerak.
  5. Benda tidak bergerak yang tidak dapat diikat dengan Hak Tanggungan ataupun hipotek.
  6. Baik benda yang ada ataupun akan diperoleh kemudian.
  7. Dapat atas satu satuan jens benda.
  8. Dapat juga atas lebih dari satu satuan jenis benda.
  9. Termasuk hasil dari benda yang menjadi objek jaminan fidusia.
  10. Benda persediaan

Yang dimaksud dengan bangunan yang tidak dapat dibebani dengan Hak Tanggungan disini dalam kaitannya dengan rumah susun sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun.

Yang dapat menjadi pemberi fidusia adalah orang perorang atau korporasi pemilik benda yang menjadi objek jaminan fidusia, sedangkan penerima fidusia adalah orang atau perorangan yang mempunyai piutang yang pembayarannya dijamin dengan jaminan fidusia.

 

sumber :

https://poekickstarter.com/love-you-to-bits-apk/