Table of Contents

Stadia Zoea

          Stadia Zoea terjadi setelah naupli ditebar di bak pemeliharaan sekitar     15-24 jam. Larva sudah berukuran 1,05-3,30 mm. Pada stadia ini, benih udang mengalami moulting sebanyak 3 kali, yaitu stadia zoea 1, zoea 3, lama waktu proses pergantian kulit sebelum memasuki stadia berikutnya (mysis) sekitar 4-5 hari.

          Fase zoea terdiri dari tingkatan-tingkatan yang mempunyai tanda-tanda yang berbeda sesuai dengan perkembangan dari tingkatannya, seperti diuraikan berikut ini :

Zoea  I       : Bentuk badan pipih, carapace dan badan mulai nampak, maxilla pertama dan kedua serta maxilliped pertama dan kedua mulai berfungsi. Proses mulai sempurna dan alat pencernaan makanan nampak jelas.

Zoea  II      : Mata bertangkai, pada carapace sudah terlihat rostrum dan duri supra orbital yang bercabang

Zoea  III     : Sepasang uropoda yang bercabang dua (Biramus) mulai berkembang duri pada ruas-ruas perut mulai tumbuh.

Stadia Mysis

          Pada stadia ini, benih sudah menyerupai bentuk udang yang dicirikan dengan sudah terlihat ekor kipas (uropoda) dan ekor (telson). Benih pada stadia ini sudah mampu menyantap pakan fitoplankton dan zooplankton. Ukuran larva sudah berkisar 3,50-4,80 mm.

          Fase ini mengalami tiga perubahan dengan tanda-tanda sebagai berikut :

Mysis  I            : Bentuk badan sudah seperti udang dewasa, tetapi kaki renang    (Pleopoda) masih belum nampak.

Mysis  II           : Tunas kaki renang mulai nampak nyata, belum beruas-ruas.

Mysis  III          : Kaki renang bertambah panjang dan beruas-ruas.

  1. Stadia Post Larva (PL)

Stadia ini, benih udang vannamei sudah tampak seperti udang dewasa. Hitungan stadia yang digunakan sudah berdasarkan hari. Misalnya, PL 1 berarti post larva berumur 1 hari. Pada stadia ini udang mulai aktif bergerak lurus ke depan.

2.2     Persyaratan Lokasi

Lokasi yang paling tepat untuk membangun hatchery pembenihan udang vannamei adalah jauh dari kota dan lahan pertanian, serta muara sungai. Hatchery harus jauh dari fasilitas produksi. Hatchery memerlukan akses ke prasarana standar industri untuk mengoprasikan fasilitas yang ada. Air tawar dan air laut yang masuk dan kemungkinan mengandung bahan pencemar harus dimonitor sesuai dengan cara budidaya ikan yang baik

tempat yang tepat untuk mendirikan hatchery adalah tempat yang berpasir dan berbatu dimana tempat tersebut bersih, bebas dari cemaran, dan mempunyai kualitas air yang bagus setiap tahunnya. Tempat yang sering terkena banjir dan berlumpur kurang tepat untuk dijadikan hatchery karena pada waktu terjadi hujan air akan menjadi sangat keruh. Selain itu, lokasi yang tepat untuk mendirikan hatchery adalah tidak berdekatan dengan muara sungai  karena dapat menurunkan salinitas secara mendadak, dimana hal tersebut sering terjadi pada waktu hujan lebat. Keuntungan dari lokasi hatchery yang berpasir dan berbatu adalah kualitas air laut menjadi bagus dan secara relatif mendekati garis pantai sehingga mengurangi kerugian pada instalasi pemipaan dan kerugian pada pemompaan. Lokasi hatchery juga harus bebas dari kontaminasi limbah pertanian dan limbah industri. Parameter kualitas air yang tepat untuk kegiatan pemeliharaan larva dapat dilihat pada

Baca juga: