Yogyakarta

Dalam masyarakat Yogyakarta tidak sedikit masyarakatnya  yang bermata pencaharian sebagai petani atau buruh tani. Sejalan dengan kemajuan teknologi, berbagai peralatan modern di bidang pertanian sudah dikenalkan pemerintah Yogyakarta sejak tahun 1960-1970 an. Di dalam pengolahan sawah dapat dikatakan bahwa hampir semua penduduk Yogyakarta baik yang bermukim di dataran tinggi maupun dataran rendah masih menggunakan peralatan pertanian yang sama jenis dan fungsinya. Pada sebelumnya dalam system pengairan di daerah Yogyakarta masih menggunakan sistem tadah hujan, tadah hujan disini yaitu maksudnya tanah sawah yang pengairannya tergantung pada air hujan, dimana hal ini sering digunakan pada daerah yang keadaan tanah di daerah tersebut tidak memungkinkan penduduknya untuk menikmati pengairan dalam mengolah sawahnya di sepanjang tahun, oleh karena itu panen yang dapat mereka nikmati hanya satu kali dalam satu tahun.

Pada saat ini pengolahan sawah dengan menggunakan pengairan teknis atau tanah sawah yang memperoleh pengairan menggunakan system irigasi teknis sudah mulai berkembang dimana yang dimaksud irigasi teknis ini yaitu jaringan irigasi Dimana saluran pemberi terpisah dari saluran pembuang, hal ini dilakukan agar penyediaan dan pembagian air dapat diatur dan diukur dengan mudah. Biasanya jaringan semacam ini terdiri dari saluran induk dan sekunder serta tersier, dimana saluran induk dan sekunder, serta dalam distribusinya dibangun dan dipelihara oleh Dinas pengairan atau pemerintahan biro.

Bagi desa-desa di Yogyakarta yang desanya telah dilintasi saluran irigasi tersier dengan begitu dapat melakukan pengairan di sepanjang waktu, dimana para petani hanya tinggal mengontrol kapasitas air yang dibutuhkan. Selain itu, dengan adanya system irigasi ini pada saat musim kemarau para petani tidak lagi membiarkan sawahnya tidak ditanami apapun. Merekapun memiliki kesempatan untuk menanami sawahnya dua kali dalam satu tahun, atau bahkan tiga kali dalam satu tahun.

Perubahan dari system tadah hujan ke system irigasi memberikan banyak keuntungan bagi petani Yogyakarta, dimana adanya irigasi menyebabkan frekuensi menanam padi di sawah meningkat. Perubahan disini tidak hanya terjadi pada frekuensi menanam padi saja tetapi juga pada hasilnya yang mengalami peningkatan, dimana sebelum adanya system irigasi teknis tanah seluas 2000m, para petani paling banyak mendapatkan hasil sebanyak 5 kuintal tetapi setelah diterapkannya system irigasi hasilnya dapat mencapai 8 kuintal. Apabila terjadi suatu kerusakan saluran-saluran pengairan, biasanya menjadi tanggung jawab bagian dari pembinaan pengairan, akan tetapi jika membutuhkan swadaya masyarakat biaya ditanggung bersama oleh para pemakai air.

Sumber :

https://nomorcallcenter.id/